Blog Sebagai Jaminan Hari Tua, Kenapa Tidak?


Delapan tahun lagi, usia saya akan memasuki masa pensiun kerja. Masa yang mungkin menyenangkan, tetapi juga bisa menakutkan. Saat itu tidak akan ada lagi rutinitas pulang pergi naik Commuter Line ke kantor, mengerjakan tugas yang monoton. Sayangnya, saat itu juga penghasilan rutin akan terhenti mengingat perusahaan dimana saya bekerja sekarang adalah perusahaan swasta yang tidak menyediakan uang pensiun.

Yang terkahir cukup menakutkan mengingat saya adalah kepala keluarga.

Kebanyakan orang mengambil tindakan, yaitu ikut yayasan dana pensiun atau memulai sebuah usaha/bisnis. Tetapi, saya berpikir sedikit berbeda.

Kebetulan, saya bukan seorang yang memiliki bakat berbisnis. Rasa tidak tegaan sering menjadi penghambat dalam menjalankan usaha. Sudah pernah mencoba dan ternyata sulit sekali menembus batasan rasa tidak tega tersebut.

Nah, kebetulan tiga tahun yang lalu, saya tertarik pada ngeblog. Mulainya sih tidak terpikir untuk mencari uang, tetapi dalam perjalanannya, terutama setelah Lovely Bogor pada bulan keempat usianya mendapat persetujuan akun Adsense, maka saya melihat sebuah peluang untuk menghasilkan uang.

Pernah sempat terpacu seperti banyak blogger untuk terfokus pada uang, tetapi hasilnya justru menekan diri sendiri.

Saya memandang blogging adalah sesuatu untuk jangka panjang dan bukan untuk segera. Butuh waktu untuk membangun dan mengembangkan sebuah blog dan waktunya tidak sedikit.

Setelah melakukan pemikiran ulang, maka harapan dan keinginan saya direvisi. Tidak lagi terfokus menjadi kaya dengan mencoba menghasilkan uang secepat-cepatnya. Pemikiran itu tidak nyaman dipakai untuk ngeblog.

Pada akhirnya target saya adalah saya akan mengembangkan blog-blog yang ada bukan untuk satu dua tahun ke depan. Saya menargetkannya untuk 8 tahun ke depan.

Saat itu saya akan memasuki masa pensiun. Apakah mendapat perpanjangan atau tidak adalah lain hal? Saat itu saya berharap ternak blog saya sudah bisa menghasilkan lebih dari yang sekarang. Boleh dong berharap.

Setidaknya, saat itu blog-blog itu bisa menghasilkan "uang pensiun" yang akan dipergunakan untuk membiayai kehidupan saya, istri, dan anak setelah tidak lagi bekerja.

Mungkinkah?

Saat ini kelihatannya tidak mungkin.

Wajar. Setelah dianalisa, memang semua blog yang saya kelola saat ini masih jauh dari mampu memenuhi kebutuhan, tetapi tetap sudah menghasilkan. Tidak besar, tetapi sudah memasukkan recehan ke dalam rekening.

Nah, situasinya 8 tahun dari sekarang tentunya sudah berbeda.

  1. Jumlah artikel 8 tahun nanti tentu sudah berlipat-lipat dari sekarang, apalagi dengan terus mengembangkan kemampuan menulis dengan cepat. Sudah pasti kontennya akan jauh lebih banyak
  2. Prediksinya, ekonomi Indonesia akan terus naik dan membaik kalau dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 6 persen setiap tahunnya
  3. Iklim periklanan online sepertinya akan ikut berkembang pula
Semua asumsi memperlihatkan kepada saya bahwa peluang menjadikan blog-blog ini sebagai sebuah usaha bisnis untuk menghasilkan uang pensiun ada, dan potensinya sangat besar.

Oleh karena itulah, saya semakin bersemangat untuk terus menulis, menulis, dan menerbitkan artikel. Semakin banyak semakin baik. Siapa tahu 8 tahun dari sekarang setiap blog saya sudah terisi setidaknya 3000-4000 artikel. Bisa bayangkan kan berapa yang bisa dihasilkan dari sebuah blog dengan 3000-4000 artikel? Saya paling tidak sudah punya 10 buah yang aktif saat ini.

Berdasarkan pengalaman, memang akan butuh waktu lama mengembangkan blog. Silakan saja baca kisah sukses para publisher Adsense di internet, adakah yang melakukannya dalam waktu singkat? Rasanya tidak.

Rasanya, target yang dibuat bagi perjalanan ngeblog saya sudah sesuai.

Targetnya berjangka panjang dan tidak akan menghasilkan tekanan berlebih. Saya bisa tidak terfokus pada menghasilkan uang saja yang tidak membuat nyaman dalam ngeblog.

So, mudah-mudahan bisa terwujud yah 8 tahun lagi dimana saya bisa diam saja di rumah, ngetik di komputer dan bisa menikmati uang pensiun dari Adsense.

Memanfaatkan Jam Makan Siang Untuk Menulis Artikel

Semakin banyak konten dalam blog semakin bagus. Itu prinsip yang dipakai Mbak Indri Lidiawati si empunya Juragan Cipir. Selain pengalaman, juga hasil sering berkunjung ke banyak blog terkenal dan sukses, menunjukkan bukti hal tersebut.

Jadi, saya mengadopsinya menjadi prinsip saya juga.

Masalah utamanya adalah saya masih bekerja di sebuah kantor perusahaan asing, sebuah trading textile. Mau tidak mau, sebagian besar waktu masih harus dihabiskan menunaikan tugas kantor yang diberikan. Semoga nanti kalau Adsense sudah bisa jadi mesin penghasil uang, saya bisa meninggalkan pekerjaan rutin yang membosankan ini.

Hasilnya, keinginan besar, tetapi waktu terbatas. Saya harus pandai-pandai mengatur waktu agar produksi artikel tidak terhambat karenanya. Setiap ada waktu luang, saya akan pergunakan untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan blogging. Mulai dari mencari ide, membuat draft hingga bahkan menerbitkan artikel.

Salah satu waktu yang saya pakai untuk menulis artikel adalah di saat jam makan siang. Lumayan ada satu jam.

Biasanya saya membagi dalam dua sesi :

  1. 30-40 menit untuk makan siang, sholat, dan istirahat 
  2. 20-30 menit untuk menulis 
Tidak banyak memang waktunya. Tetapi, karena saya mulai terbiasa menulis cepat, 20-30 menit itu bisa menghasilkan sebuah artikel ringan atau sekedar celotehan saja. Yang penting, harus ada hasil dari waktu tersebut.

Memang, akibatnya, saya tidak punya waktu istirahat. Itulah juga alasan saya lebih suka membawa bekal makan siang dari rumah, lebih hemat uang dan juga lebih hemat waktu karena tidak perlu berjalan membeli ke warung.

Tetapi, bukanlah sebuah masalah. Rasanya tetap harus ada yang dikorbankan demi kemajuan. Jika saya tidak mau mengorbankan waktu makan siang, akibatnya, blog akan lebih lamban terisi artikel baru. Ujungnya, target akan lebih lama tercapai.

NO PAIN NO GAIN. TIDAK ADA HASIL TANPA PENGORBANAN.

Dan, saya memilih mengorbankan sebagian waktu istirahat makan siang demi artikel supaya blog-blognya terisi dengan lebih banyak konten.

Salah Satu Keunggulan Memakai Blogspot Dibandingkan Wordpress Self-Hosted


Yang ini adalah salah satu keunggulan memakai Blogspot atau Blogger dibandingkan dengan Wordpres Self-Hosted. Keunggulan mutlak dan sepertinya pasti dirasakan oleh banyak blogger. Salah satu point dimana WP Self Hosted tidak akan bisa menang.

Keunggulan Blogspot itu adalah servernya jarang sekali down. Tentunya, satu dua kali Blospot juga terkena masalah, tetapi frekuensinya teramat sangat jarang.

Hari ini Lovely Bogor yang masih memakai shared hosting di idwebhost mengalami kendala tidak bisa diakses. Bukan hanya oleh admin, tetapi juga oleh pembaca. Lamanya sekitar 2-3 jam.

Setelah mengontak customer service provider itu barulah diketahui bahwa terjadi kendala pada server mereka. Ujungnya, ya Lovely Bogor tidak bisa dibuka sama sekali.

Tentunya, bagi publisher Adsense hal itu juga mempengaruhi pendapatan. Bila dalam 2-3 jam ada 200-300 pageview saja dan jika setiap 100 pageviews ada 1-2 klik, tetap ada potensi pendapatan yang melayang.

Lebih tidak menyenangkannya lagi adalah selama 2-3 jam saat server down, tidak ada yang bisa dilakukan, selain menunggu.

Menyebalkannya, jika di saat itu mood sedang menulis sedang bagus-bagusnya sementara blog tidak bisa dibuka, yah mau tidak mau cuma bisa manyun saja. Bengong dan biasanya mood menguap dengan cepat, kebanyakan karena kesal.

Untungnya, selain blog Wordpress Self Hosted, saya memiliki banyak blog lain yang masih memakai platform Blogger. Mood yang sedang tinggi-tingginya bisa disalurkan di blog yang lainnya.

Jadi, saya sarankan, kalau Anda memang hendak mengelola blog dengan platform WP Self Hosted, cobalah :

1) Memilih server yang sangat sedikit downnya. Sulit memang karena semua provider menjanjikan downtime yang bagus dan sering disebutkan hanya 1% saja. Juga, semua hosting pasti akan ada downtimenya. Tidak ada yang bisa 100% standby. Bahkan, blogger saja terkadang ada juga masalahnya. Hanya semakin sedikit downtime akan semakin bagus.

2) Sediakan blog cadangan, bisa berbasis blogspot atau blogger yang gratis dan pastinya sangat jarang bermasalah. Setidaknya, jika ada kendala pada satu blog, bisa tetap menulis di blog yang lain dan moodnya tidak terbuang percuma.

Iya nggak?

Menulis Artikel di Atas Kereta (Commuter Line) Semakin Susah

Menulis Artikel di Atas Kereta (Commuter Line) Semakin Susah

Kebiasaan menulis artikel untuk blog di kereta Commuter Line yang saya pakai setiap hari pulang pergi dari dan ke kantor dimulai beberapa bulan yang lalu. Ide awalnya adalah memanfaatkan waktu menunggu dan selama di dalam kereta agar lebih produktif, sekaligus untuk mengisi blog-blog yang saya kelola.

Pada awalnya sih lumayan. Satu dua artikel bisa ditelurkan selama dalam perjalanan. Sayangnya, lama kelamaan terlihat sekali penurunan jumlah artikel yang diproduksi saat berada di kereta.

Bukannya karena malas karena sang Tablet murahan tapi berguna Samsung Galaxy A6 tidak pernah lupa dibawa dan selalu full baterainya. Juga, setiap hendak masuk kereta, sudah berada pada posisi yang mudah dicapai di dalam tas ransel bulukan kesayangan.

Yang jadi masalah ternyata adalah tingkat kepadatan penumpang yang semakin hari semakin padat saja. Jika beberapa bulan yang lalu sering saya masih bisa berdiri di depan jendela, baris pertama setelah tempat duduk, yang berarti ada ruang untuk memegang gadget dan mengetik, belakangan ini sudah tidak bisa lagi.

Selalu saja posisi yang saya dapat sudah di tengah gerbong. Padahal dengan posisi di tengah, pegangan tangan agak jauh dan memaksa satu tangan harus terjulur memegang agar berdirinya bisa tegak. Kalau sudah begini tentu tidak mungkin untuk tetap memegang si Samsung dan mengetik.

Jadilah selama perjalanan bengong saja sambil sibuk mempertahankan posisi yang kerap goyang karena terdorong penumpang yang hendak turun atau naik.

Begitulah nasib blogger jalanan.

Tidak mengeluh karena semakin tingginya kepadatan penumpang di kereta komuter Jakarta Bogor adalah pertanda bagus. Bagus karena warga Jabodetabek semakin banyak yang menggunakan angkutan umum, seperti Commuter Line ini.

Memang korbannya, ya, saya si blogger tidak bisa berproduksi seperti biasanya. Makanya, artikel yang diterbitkan dari atas kereta berkurang dan seringnya hanya berupa draft saja.

Belum ada pemecahan selain harus mencoba berebut mencari posisi berdiri yang lebih baik supaya bisa tetap menulis artikel selama perjalanan. Meski demikian, tetap saja tergantung nasib karena ribuan orang berpikiran hal yang sama. Berdiri dengan nyaman di atas Commuter Line sudah merupakan berkah tersendiri bagi penggunanya.

Tak apalah. Bagaimana pun itu adalah bagian dari kehidupan seseorang yang sedang mencoba menjadi mobile blogger. Harus disyukuri pula masih ada draft yang bisa dibuat yang artinya tidak benar-benar bengong dan hanya tangan kosong begitu turun dari kereta.

Perlukah Membuat Kerangka Tulisan Untuk Menulis di Blog ?


Perlu atau tidak? Menurut Anda bagaimana kalau ada yang bertanya "Apakah perlu membuat kerangka tulisan untuk menulis di blog?"

Percayalah.

Akan ada yang menjawab YA, PERLU.

Akan ada yang mengatakan TIDAK PERLU.

Yang benar yang mana. Cara yang mana yang harus diikuti? Mana yang paling mungkin menghasilkan tulisan yang enak dibaca dan mendatangkan pengunjung?

Nah, tambah bingung kan? Dari satu pertanyaan, akan merembet ke pertanyaan lain, yang ujungnya juga tidak menjawab pertanyaan yang ada.

Cara terbaik untuk nenjawab pertanyaan ini adalah dengan mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut :

1. Apakah ada sebuah buku berisi patokan standar cara membuat tulisan yang baik untuk blogging dan disepakati oleh para blogger?

2. Apakah blogging adalah sebuah kegiatan akademis nan formal?

Jawabannya sudah jelas kan.

Jawaban nomor 1 adalah TIDAK. Tidak pernah ada yang namanya buku panduan standar tentang cara ngeblog yang baik dan benar. Yang ada adalah "opini" dan "pandangan" pribadi dari masin-masing individu tentang bagaimana cara ngeblog terbaik, versi mereka.

Jawaban nomor 2 adalah TIDAK atau BUKAN. Ngeblog itu jelas dunia yang non formal. Penuh dengan kebebasan dan terlepas dari kekangan berbagai aturan.

Menulis di blog berbeda dengan menulis skripsi, thesis, disertasi, atau karya tulis. Pada karya tulis atau skripsi, jelas sekali ada panduannya yang ditetapkan oleh institusi pendidikan. Disana terlihat jelas sekali bagaimana sebuah skripsi/disertasi/thesis harus dibuat.

Kerangka tulisan sangat diperlukan karena mau tidak mau penulisnya harus mengikuti pedoman yang sudah ada. Tidak bisa bebas.

Dalam situasi seperti ini, ya membuat kerangka tulisan, hampir bisa disebut sebagai WAJIB hukumnya. Tidak jarang dosen pembimbing akan melihat kerangka skripsi yang dikerjakan mahasiswa yang dibimbingnya untuk melihat apakah sudah sesuai dengan kriteria ilmiah atau belum.

Tapi, kalau menulis di blog? Siapa yang mengharuskan? Siapa yang akan mengoreksi?

Jawabannya TIDAK ADA.

Kecuali si blogger mau melakukannya, tidak pernah ada yang peduli apakah sebuah tulisan dibuat dengan menggunakan metode kerangka tulisan atau tidak. Who cares? Pembaca hanya akan peduli pada hasil akhir, enak dibaca, berisi informasi, atau tidak.

Itu saja.

Kerangka tulisan bukanlah merupakan keharusan.

Bagaimana dengan hasil antara artikel yang melalui tahap kerangka penulisan dan yang tidak? Mana yang lebih baik?

Menurut Anda yang mana?

Kenyataannya, pembaca tidak peduli kan? Padahal mereka adalah juri penentu dan penilai sebuah tulisan bagus atau jelek. Kalau mereka saja tidak pernah peduli, lalu siapa yang harus menentukan baik atau tidak?

Pandangan banyak blogger senior bin mastah bahwa menulis artikel di blog harus memakai sistem kerangka tulisan adalah PANDANGAN PRIBADI, OPINI, PENDAPAT. Bukan sebuah TITAH dari seorang raja yang harus dlaksanakan.

Perlu atau tidaknya membuat kerangka tulisan sebelum menulis di blog akan tergantung individunya.

Seorang blogger yang sistematis, dan metodis akan cenderung menggunakan teknik kerangka penulisan sebelum membuat artikelnya.

Sebaliknya seorang yang bebas, gemar mengambil resiko, dan tidak mau terkekang, akan cenderung mengabaikannya.

Di dunia blogging, blogosphere, semua bebas memilih jalannya masing-masing. Tidak ada keharusan dan tidak ada yang bisa memaksa orang lain harus mengikuti jalannya.

Jadi, tanyakan pada diri sendiri. Mana jalan yang cocok untuk Anda? Membuat kerangka tulisan dulu atau langsung saja menulis?

Kalau saya sih terus terang. Sudah mencoba berulangkali membuat kerangka tulisan dulu sebelum menulis, hasilnya adalah tulisan-tulisan tersebut tidak pernah selesai. Ujungnya draft masuk "tong sampah" karena rasa tidak nyaman memakai teknik itu.

Tapi itu saya yah. Tidak mengikat pendapatnya.

Contoh tulisan yang dibuat langsung, ya artikel ini. Dibuat tanpa memakai kerangka tulisan dan hanya dibiarkan mengalir keluar dari kepala, lewat jari, kemudian keyboard, dan hasilnya Anda baca sekarang ini.

Baik atau buruk. Anda yang menilai. Bukan saya. Saya mah hanya senang menulis saja.

Mengapa Perusahaan Juga Ngeblog?


Blogging atau ngeblog biasanya dilakukan oleh individu atau personal. Tujuannya tentu beragam, mulai dari sekedar tempat curhat hingga untuk menghasilkan uang. Individu yang melakukan kegiatan ini disebut dengan blogger.

Biasanya begitu.

Tetapi, tahukah Anda bahwa di zaman now, kegiatan ngeblog bukan lagi monopoli perorangan saja. Banyak sekali perusahaan ternyata juga ngeblog. Hal itu bisa terlihat pada website-website perusahaan tersebut dimana tersedia menu blog, seperti screenshoot di atas.

Pertanyaannya, mengapa perusahaan juga ngeblog? Apakah bisnis kurang lancar sehingga harus mencari pendapatan lain? Apakah karena pegawainya kurang kerjaan sehingga mereka perlu diberi kerjaan tambahan mengisi blog supaya tidak terlihat luntang lantung?

Jawabannya, bukan itu semua.

Kelebihan dari sebuah blog dan isinya ternyata juga menarik bagi para penggelut dunia bisnis. Banyak dari mereka bahkan tidak segan mengeluarkan biaya tambahan agar blog di website mereka terisi secara terjadwal.

Alasannya :

1. Melakukan Branding

Para pelaku bisnis menemukan bahwa blog bisa dijadikan sebuah media untuk menanamkan branding atau pencitraan perusahaannya.

Mereka biasanya menerbitkan artikel-artikel untuk bisa menimbulkan kesan "khusus" pada diri pembacanya, seperti perusahaan "A" sebagai perusahaan yang ramah lingkungan atau lain sebagainya.

2. Memperkenalkan Produk Baru

Sebuah perusahaan akan selalu menawarkan sesuatu, entah produk atau jasa baru. Tentunya, tidak serta merta para calon pengguna akan tahu tentang produk baru tersebut. Perusahaan. harus memperkenalkannya kepada khalayak agar bisa terjual.

Cara terbaru yang mulai umum dilakukan adalah dengan membuat sebuah artikel yang membahas tentang produk baru tersebut di blog mereka.

3. Menghemat Biaya Promosi

Pomosi itu mahal lo. Tidak murah. Perlu uang banyak untuk membuat orang mengenal sebuah produk dari perusahaan.

Menerbitkan artikel-artikel di blog yang tersedia di website sendiri adalah sebuah langkah promosi yang sangat murah. Biaya promosi hanyalah sekedar mencari penulis review atau artikel saja.

Memang penjualan tidak bisa hanya via blog dan harus ditunjang kegiatan promosi lainnya, tetapi, dengan menerbitkan artikel di website sendiri, maka tentunya ada biaya promosi yang bisa dihemat.

4. Membangun Loyalitas

Pernah coba mencari tutorial cara memperbaiki hal-hal kecil dari sebuah produk seperti Televisi dan tidak menemukannya? Pastilah sudah. Kalaupun sudah ada blogger yang membuatnya, tentunya tidak akan begitu saja dipercaya dibandingkan ketika si pembuatnya yang mengatakan.

Sebuah blog yang berisi berbagai penjelasan atau bantuan teknis terhadap sebuah produknya akan membangkitkan rasa percaya dan loyal dari penggunanya. Ia akan memberikan kesan bahwa produsen barang yang dibelinya sangat memperhatikan kebutuhan dari penggunanya.

Sebuah hal yang sulit dlakukan ketika yang ada di websitenya hanyalah beberapa halaman statis. Sebuah blog berisi artikel tutorial tentang produk-produknya akan sangat bermanfaat.

5. Membuat Pasar

Sebuah blog, jika ditangani secara baik, akan melahirkan pembaca-pembaca yang setia di ceruk pasar yang diterjuni.

Pembaca-pembaca ini adalah manusia dan setiap manusia selalu "berbelanja".

Sebuah blog perusahaan yang memiliki banyak pembaca setia akan diuntungkan karena mereka bisa mendapatkan pembeli/pengguna jasa dari komunitas pembaca blog mereka sendiri.

Mereka bisa menawarkan sebuah produk lewat blognya dan bisa dibeli langsung oleh pembaca blog mereka.

6. Menjalin Interaksi Dengan Pengguna/Pembeli

Memang, biasanya selalu ada bagian customer service atau marketing di setiap perusahaan. Bagian ini bertanggungjawab melakukan pendekatan dan interaksi kepada pelanggan atau calon pelanggan dengan tujuan akhir tentunya penjualan.


Tetapi, bagaimana ketika seorang calon pembeli berada di tempat jauh sehingga akan sangat mahal untuk mendatanginya? Mudah saja, kolom tanya jawab di blog, atau kolom komentar bisa menjadi sebuah sarana interaksi dengan pelanggan atau calon pelanggan yang seperti ini.

Akan menjadi lebih efisien lagi, jika sebuah forum disediakan di sebuah website perusahaan untuk membahas artikel tentang sebuah produk yang diterbitkan di blog perusahaan itu.

Begtulah kira-kira mengapa semakin banyak website perusahaan yang memasang menu "BLOG".

Banyak keuntungan yang diraih sehingga tidak jarang perusahaan mengeluarkan dana untuk menyewa "blogger" untuk mengelola blog mereka.

Sebuah peluang pekerjaan baru untuk para blogger di masa yang akan datang. Di banyak negara maju hal ini sudah umum dilakukan, tetapi sepertinya di Indnesia masih butuh waktu. Mungkin karena para perusahaan masih belum 100% memanfaatkan potensi yang ada dari sebuah blog di website perusahaan.

Mungkin 3-5 tahun lagi? Maybe yes, maybe no.

Mengapa Blogger Mempromosikan Untuk Membuat Blog Bahasa Melayu (Indonesia) ?

Ada sebuah hal menarik di dashboard Blogger atau Blogspot dua tiga hari sebelum tulisan ini dibuat.

Beberapa kalimat muncul di bagian atas dashboard Blogger yang menyarankan, lebih tepatnya mempromosikan dan mendorong para pengguna platform ngeblog gratis itu agar menulis dalam bahasa Melayu (Malay). Argumennya adalah ada lebih dari 220 juta pengguna bahasa itu di seluruh dunia.

Tulisannya seperti apa bisa dilihat di screenshoot bawah. Sayangnya, banner itu sudah tidak nampak lagi hari ini saat tulisan ini terbit. Untung juga punya kebiasaan langsung membuat screenshoot setiap melihat sesuatu yang menarik di layar gadget lawas Samsung Galaxy A6 saya.

Why not blog in Malay?
With over 220 millions speakers around the world and a rapidly growing audience, Malay content could be the next opportunity to get you new readers. You can create a new account or use your existing AdSense account to monetize your Malay content. Get started now.
Kalau diterjemahkan, maka artinya :

Mengapa tidak ngeblog dalam bahasa Melayu?
Dengan lebih dari 220 juta pemakai bahasa tersebut di seluruh dunia dan pengunjung yang berkembang dengan pesat, bahasa Melayu bisa menjadi kesempatan untuk mendatangkan pembaca bari. Anda bisa membuat akun baru atau menggunakan akun Adsense yang ada untuk memonetisasi konten berbahasa Melayu... Mulai sekarang.
Mungkin banyak blogger Indonesia yang membaca ini tidak ambil peduli. Kenapa harus tertarik? Bahasa yang kita pakai kan bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu.

Kalau Anda berpikir demikian, maka sebaiknya segera direvisi yah, karena apa yang Google tulis itu sebenarnya justru lebih tepat ditujukan kepada orang Indonesia, dan bukan orang Malaysia atau Singapura.

  1. Malay (Melayu) tidak seharusnya diterjemahkan sempit, alias bahasa yang dipakai di Malaysia saja karena bahasa Indonesia sendiri memiliki akar dan termasuk bahasa Melayu
  2. Penduduk Malaysia hanya sekitar 31 juta jiwa saja, padahal dalam promosinya Blogspot menyebutkan 220 juta di seluruh dunia. Jadi tidak mungkin hanya ditujukan buat warga Malaysia
  3. Penduduk Singapura hanya 5.5 juta saja dan hanya sebagian saja yang bisa bahasa Melayu
  4. Pengguna bahasa Indonesia mencapai 250 juta jiwa dan mayoritas sudah fasih berbahasa Indonesia (yang berakar dari Melayu)
Jadi, bisa ditebak kemana arah dari promosi tersebut?

Betul sekali.

Sebenarnya promosi Blogger untuk mendorong penggunanya menulis dalam Melayu ditujukan lebih kepada orang Indonesia. Bagaimanapun, bahasa kita mirip dan memang berasal dari bahasa Melayu.

Dengan 250 juta penduduk, walau belum semuanya melek internet dan aktif membaca, pasar Indonesia adalah sebuah pangsa yang besar. Ratusan juta orang hingga saat ini aktif di dunia maya.

Pasar ini juga sedang berkembang dengan pesat dan sedang terus bertumbuh. Setipa tahunnya pengguna internet di negara ini terus bertambah. Apalagi budaya membaca di Indonesia juga sedang terus menunjukkan grafik yang menaik.

Sebuah pangsa pasar yang sangat potensial bagi penyedia konten karena msih jauh dari kata jenuh.

Memang, belum mapan seperti pasar pembaca di Amerika Serikat dan negara mau lainnya. Tetapi, dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat stabil dan terus menunjukkan grafik menanjak, Indonesia bisa menjadi penyedia pasar pembaca yang luar biasa besarnya.

Masalah utamanya memang bagi para publisher Adsense adalah BPK atau Biaya Perklik masih sangat rendah dan kurang menarik. Butuh ratusan ribu pembaca agar bisa kaya dari Adsense. Hanya, itu sekarang.

Bayangkan saja ketika Indonesia sudah menjadi negara maju dengan ekonomi yang kuat. Pada saat itu persaingan akan semakin ketat dalam segala hal, termasuk dalam periklanan.

Bisa diprediksi, dengan ekonomi yang tumbuh stabil, kehidupan masyarakatnya yang semakin tidak bisa lepas dari internet, suatu waktu periklanan online juga akan tumbuh. Pada akhirnya hal itu akan mendorong sebuah iklim yang bagus bagi para publisher Adsense di Indonesia. Hal ini berarti bisa diharapkan BPK atau CPC (Cost per Click) Adsense bagi para publisher Indonesia akan membaik juga.

Butuh waktu agar sebuah pasar tumbuh. Dimanapun hal itu berlaku.

Adsense bagi bahasa Indonesia baru resmi beroperasi 5 tahun saja (sejak 2012). Baru 5 tahun berjalan dan sangat normal sekali jikalau para pengiklan belum terlalu banyak dan memahami keuntungan beriklan melaluinya. Jumlahnya belum mencapai level yang maksimum.

Sebuah situasi yang akan selalu dihadapi oleh pasar yang baru saja tumbuh. Sekali lagi, di negara manapun sama.

Bisakah para blogger Indonesia memanfaatkan kesempatan itu? TERGANTUNG. Bisa ya bisa tidak.

Tergantung pada ketekunan dan konsistensi dari mereka untuk mengelola blog yang dimilikinya. Tergantung apakah para blogger Indonesia mau menyingkirkan budaya instan yang kerap meracuni pikiran mereka. Tergantung apakah mereka mau terus menggunakan Adsense atau lari ke lain hati.

Banyak hal yang akan menentukan.

Hanya saja, bagi saya sendiri, promosi oleh Blogger/Blogspot soal blog berbahasa Melayu ini, sesuai dengan apa yang saya perkirakan tentang pasar (pembaca) di Indonesia. Sangat potensial dan bisa menjadi pasar besar yang tidak kalah dari negara lainnya sebagai sumber.

Dengan kondisi ekonomi seperti sekarang ini, sudah pasti akan menjadi pasar rebutan banyak orang. Tidak beda dengan kondisi perekonomian di dunia nyata, dimana Indonesia adalah rebutan banyak perusahaan dari luar negeri.

Dengan promosi blogger seperti itu, tidak heran bahwa suatu waktu akan ada blog berbahasa Indonesia yang dikelola oleh orang asing.

Pertanyaannya tinggal maukah pasar negeri sendiri ini suatu waktu pun dikuasai oleh orang asing. Padahal para blogger Indonesia memiliki banyak keunggulan untuk bisa menangguk keuntungan darinya.

Jika Anda blogger, jawabannya, terserah Anda . Saya sudah memulainya, bagaimana dengan Anda?

[Jangan Lakukan Ini] Kecanduan Pada Statistik Blog, Pergunakan Sebagaimana Mestinya


Statistik itu penting. Apalagi di zaman sekarang ini dimana persaingan begitu ketat dalam segala hal, menguasai ilmu statistik yang dikenal dengan statistika bisa menjadi penentu kalah menangnya dalam persaingan. Penguasaan dan pemahaman terhadap data akan memberikan keuntungan kompetitif bagi siapapun.

Itulah mengapa bahkan perusahaan besar semacam Toyota, Microsoft, dan banyak lainnya memiliki bagian tersendiri yang menangani statistik.

Begitu juga dalam hal blogging atau ngeblog.

Penting bagi seorang blogger, terutama yang berkeinginan untuk menjadi tenar atau sukses dalam ngeblognya, untuk bisa memanfaatkan data yang disediakan secara gratis oleh Google, Analytics atau Webmasters atau Adsense.

Tidak heran, hal pertama yang selalu disarankan para blogger senior atau tutorial tentang blogging adalah "keharusan" untuk  mengaitkan blog dengan Google Analytics atau Webmaster. Hal ini, walau banyak salah kaprahnya juga, akan membantu para blogger untuk mendapatkan data dari mesin pencari Google.

Statistik ini pula yang memicu lahirnya banyak jenis plug in atau widget statistik lain, seperti Hi-Stats untuk Wordpress.

Kesemuanya bertujuan dan menawarkan hal yang sama, yaitu agar para blogger memiliki data statistik terkait dengan blog yang mereka kelola.

Para blogger pun tahu bahwa hal itu bisa membantu dalam memenangkan persaingan di dunia blogging, yang ketatnya tidak beda dengan kompetisi di pasar kaos kaki dunia. Ketat bin keras.

Itulah mengapa mayoritas blogger secara tidak sadar meluangkan cukup banyak waktu untuk memelototi data yang disediakan gratis oleh Google itu. Banyak blogger melakukannya paling sedikit sehari sekali, tetapi tidak terhitung banyaknya yang memandangi pergerakan data.


Dan, terus terang, fenomena semacam saya anggap KONYOL dan TIDAK BERGUNA.

Melihat statistik blog setiap hari atau sehari tiga kali seperti makan obat dokter itu adalah tindakan yang sebenarnya sia-sia. Membuang waktu saja dan menunjukkan gejala kecanduan. Tingkah laku seperti ini menunjukkan bahwa si pemakai tidak mengetahui apa itu ilmu statistika dan cara menggunakan statistik dengan benar.

Kesemuanya lebih merupakan cerminan ego, nafsu, dan keterburu-buruan.

Statistik adalah tentang mengamati "POLA" yang disuguhkan dalam bentuk data dalam bentuk angka.

Kumpulan data yang ditampilkan di Google Webmaster Tools adalah data yang berkaitan dengan berapa banyak pengunjung yang didatangkan Search Engine Google ke sebuah blog atau website. Data yang ada tidak termasuk data pengunjung yang datang secara langsung, dari media sosial. GWT khusus memajang data pengunjung dari Mesin Pencari saja.

Berbeda dengan data Google Analytics, dimana data keseluruhan, baik dari Search Engine/Mesin Pencari, atau media sosial, atau langsung. Semua data ditampilkan dan dibuatkan grafiknya.

Kesemuanya ini membentuk sebuah pola tersendiri. Kapan waktu umum pengunjung datang, kapan mereka pergi, waktu puncak pengunjung terbanyak, dan masih banyak hal lainnya.

Semua berbicara tentang POLA dalam jangka waktu tertentu.

Seorang ahli atau pengguna statistik harus mampu menetapkan "jangka waktu" tertentu ini yang kemudian harus dianalisa, diinterpretasi, dan kemudian diwujudkan dalam langkah yang diambil.

Nah, disitulah LUCUNYA. Pola apa yang bisa dilihat saat seorang blogger melihat dashboard setiap satu jam sekali atau satu hari sekali.

Disana polanya belum jelas karena data yang terkumpul sebenarnya tidak akan berubah terlalu banyak. Sinyal-sinyalnya tidak mencerminkan apa-apa.

Coba bayangkan saja, pada jam 10.00, jumlah pengunjung search engine 100 UV (Unique Visitor) dengan 200 PV (Pageviews). Kemudian, jam 11.00 cek lagi, pengunjung menjadi 250 UV dan 650 PV. Jam 12.00, mencapai 300 UV dan 750 PV.

Nah, kira-kira pola pergerakan pengunjung seperti apa? Apakah naik dan turun? Apakah memang akan seperti itu terus menerus? Apakah hal itu akan berlaku mingguan?

Jawabannya, TIDAK JELAS karena data yang ada hanya dalam rentang 2 jam saja.

Lalu, apa gunanya? Ilmu statistik, statistika, memiliki empat langkah yang saling berkaitan, mengumpulkan, menganalisa, menginterpretasi, mewujudlkan dalam tindakan.

Dengan data sejak jam 10-12, maka yang bisa dilakukan hanya langkah :

1. Mengumpulkan : sudah dilakukan Google

2. Menganalisa & Meninterpretasi :menterjemahkan data yang hanya sedikit sangatlah dihindari oleh para pengguna statistik. Mereka sebisa mungkin akan menunggu hingga data dianggap "cukup" untuk bisa dianalisa dan diinterpretasi. Tidak ada perusahaan yang mau menganalisa data yang baru masuk dua jam untuk emngambil keputusan jangka panjang. Kemungkinan kesalahan akan teramat sangat besar. Itulah kenapa KPU (Komite Pemilihan Umum) memberikan tenggang waktu lumayan lama sebelum mengumumkan hasil pemilihan

3. Mengambil tindakan : sebuah keputusan atau tindakan, biasanya sulit memperlihatkan efek secara langsung. Dokter saja sering memberikan waktu 3 X 24 jam untuk melihat reaksi dari obatnya. Bayangkan saja kalau mereka memberikan obat A kepada pasien jam 10 dan kemudian jam 12 merubahnya menjadi obat B, dan jam 14.00 mereka memberikan resep obat B kepada pasien. Yang ada pasien akan mati.

Begitupun pada sebuah blog.

a) jam 10.00 : pengunjung naik sampai 100%, si blogger pamer di Forum IAPD dan berkoar "blog saya hebat kedatangan pengunjung naik sampai 100%". Dia memutuskan tidak melakukan tindakan apa-apa.

b) jam 11.00 : pengunjung turun 50%, balik ke grup IAPD dan mengeluh, "Mastah kenapa ya blog saya pengunjungnya turun sampai 50%" sambil mencoba mengutak-atik dan mencari backlink supaya pengunjung terus bertambah.

c) jam 12.00 : pengunjung naik lagi 25%, celotehan riang "hebat ya backlink dari blog zombie, pengunjung langsung naik 25%" akan keluar. Dia kemudian mencari backlink lagi.

d) jam 13.00 : pengunjung turun lagi 100%, sang blogger memaki, "Backlink ini payah, nggak memberikan hasil".

Bisa terbayang kan?

Memang ekstrim contohnya, tetapi bukankah banyak yang melakukannya, melihat data statistik Google Analytics atau Adsense setiap jam, atau setiap hari?

KONYOL. Menunjukkan bahwa yang melakukannya KECANDUAN terhadap data. Membuang banyak waktu hanya sekedar untuk memuaskan EGO saja.

Coba pertanyakan saja, apakah pengunjung dari Search Engine Google akan bertambah dengan Anda memelototi data di Google Webmaster? Apakah pengunjung akan langsung naik begitu Anda menerbitkan satu artikel?

Jawabnya TIDAK.

Mesin perayap Google akan membutuhkan waktu beberapa hari begitu mendapat "ping" tanda sebuah artikel baru terbut. Ia tidak langsung menuju blog Anda. Para robot perayap juga sibuk karena ada jutaan blog dan website di dunia.

Mereka butuh waktu.

Jadi, sama sekali tidak ada gunanya melihat statistik blog setiap jam atau hari, selain untuk membuat senang, atau memuaskan ego saja. Banyak waktu terbuang. Emosi menjadi tidak stabil, terutama kalau melihat datanya tidak menyenangkan alias turun atau masih sedikit.

Pergunakan data statistik sebagaimana mestinya.

Blogging atau ngeblog adalah sebuah perjalanan panjang dan rencana sudah seharusnya dibuat dalam tahap-tahap tertentu. Setiap tahap inilah yang membutuhkan data untuk dianalisa.

1. Tahap Kontrol : blog harus dipelihara dan untuk melihat kesehatannya, melihat statistik di Analytics atau Webmaster perlu dilakukan secara berkala setiap minggu (kalau ada waktu yah!). Lihat pola yang ada, apakah menaik atau menurun.

Kalau tren naik, berarti BAGUS, kalau tren turun, berarti ada sinyal bahwa kesehatan blog (dari sisi jumlah pengunjung menghadapi masalah).

Perlu lakukan tindakan? Kecuali pengunjung menjadi 0, tidak ada yang perlu dilakukan, cukup amati sinyal saja.

2. Tahap Koreksi : kalau statistik yang ada menunjukkan bahwa tren TURUN terjadi secara berturut-turut selama 3 kali (yang berarti 3 Minggu), harus disimpulkan ADA YANG TIDAK BERES. Analisa lebih dalam kemungkinan penyebabnya, dan lakukan tindakan koreksi.

3. Tahap Pengembangan : anallisa pola dari data statistik yang ada setiap tiga bulan perhatikan tren pengunjung blog dan cari apa yang kemungkinan bisa dikembangkan lebih lanjut. Tahap ini juga bisa dipakai menentukan arah sebuah blog.

YANG PASTI, tidak perlu setiap jam atau setiap hari datanya dilihat. Itu pekerjaan mereka yang bekerja di lembaga survey saat quick count dan bukan pekerjaan blogger.

Tidak perlu jadi orang konyol dan kecanduan sesuatu yang tidak jelas, seperti kecanduan statistik blog. TIDAK ADA GUNANYA SAMA SEKALI. Daripada memandangi data seperti itiu, jelas lebih baik menulis dan menghasilkan tulisan baru.

Hal itu sudah kodrat seorang blogger dan jelas membantu berkembangnya sebuah blog. Pasti itu.

Tetapi, ada satu lagi yang lebih enak sebenanrya dilakukan saat ngeblog, yaitu saat tidak memiliki target atau tujuan tertentu selain untuk memuaskan kesenangan menulis saja. Saar itu, sebenarnya ada Google Webmaster atau Analytics atau Hi-stats juga tidak masalah.

Tidak perlu diurusin.

Jadi, berapa kali Anda melihat statistik blog dalam sehari kawan? 1X? 2X? 20X?






Mungkinkah Menulis Sebuah Artikel Dalam 15 Menit


Kenapa tidak? Mengapa tidak bisa menulis sebuah artikel dalam waktu 15 menit saja. Mengapa sepertinya menulis itu seakan sebuah pekerjaan yang terlalu rumit dan tidak mungkin dilakukan dalam waktu yang singkat.

Banyak orang yang sudah pernah melakukannya. Banyak juga yang bahkan sudah membuatkan panduannya bagaimana menghasilkan sebuah tulisan dalam waktu yang jauh lebih seidkit dibandingkan memasak sayur itu.

Tidak rumit kok.

Syaratnya hanya satu, atau dua paling banyak.

Yang pertama, kita sudah terbiasa menuangkan pikiran atau ide ke dalam bentuk tulisan. Tanpa menjadikan kegiatan menulis sebagai sebuah kebiasaan, maka hampir tidak mungkin bisa menghasilkan tulisan dalam waktu yang singkat.

Yang kedua, kita memiliki pengetahuan tentang apa yang mau ditulis. Mencoba menulis tentang hal yang tidak kita mengerti tidak akan menghasilkan apa-apa, bahkan ketika waktu yang disediakan berjam-jam lamanya.

Keduanya adalah inti bagi siapapun yang bisa menulis dengan cepat.

Banyak blogger yang mengatakan bahwa tidak mungkin menghasilkan sebuah tulisan dalam jangka waktu yang singkat. Kalaupun bisa, maka kualitasnya akan diragukan.

Padahal tidak demikian adanya.

Selama seorang penulis dapat menuangkan ide secara runtut, terstruktur, dan berisi, maka sebuah tulisan akan tetap memberikan arti, makna, dan manfaat bagi yang membacanya.

Tulisan tersebut akan bisa dipandang sebagai sesuatu yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebuah tulisan yang lahir dalam waktu yang panjang tidak selalu akan berarti lebih baik dari yang dibuat dalam waktu yang lebih singkat. Begitupun sebaliknya.

Kemampuan sang penulis lah yang menentukan.

Salah seorang yang mampu menghasilkan tulisan dalam waktu yang singkat adalah Mbak Indri Lidiawati, sang pemilik blog Juragan Cipir. Ia pernah menuliskan pada blog legendaris tersebut kalau ia mampu menulis dalam waktu sekitar 10-15 menit saja.

Hasilnya bisa dikata "Not Bad" tidak buruk. Isinya bahkan lebih bermakna dan berjiwa dibandingkan banyak tulisan penulisnya gemar mempromosikan bahwa menulis itu tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat.

Lebih berkarakter , memiliki ciri khas, dan menginspirasi orang banyak. Bukankah karena itu blognya "pernah" menjadi salah satu yang terbaik menurut "PanduanIM". Bukankah tulisan-tulisan sederhana yang dibuat hanya dalam hitungan menit saja menjadikan penulisnya sebagai panutan banyak blogger lainnya?

Bukankah begitu?

Jadi, jangan pernah percaya kalau ada orang yang menyebutkan bahwa sebuah tulisan atau artikel tidak bisa dibuat dalam waktu 15 menit saja.

Orang tersebut berarti sedang berhalusinasi dan seperti sedang hidup di dunianya sendiri saja. Ia bagai katak dalam tempurung yang tidak pernah melihat luasnya dunia.

Katakan pada mereka "BULLSHIT", omong kosong!

Selama Anda sudah terbiasa menulis artikel dan memiliki pengetahuan tentang apa yang akan ditulis, maka semuanya mungkin. Lima belas menit adalah waktu yang cukup lama untuk menghasilkan tulisan atau artikel sepanjang 200-300 kata.

Bukan hal yang sulit.

Tidak percaya?

Tulisan ini dihasilkan dalam waktu hanya 10 menit saja. Termasuk mencari foto dan melakukan satu kali koreksi saja.

Soal kualitas? Silakana nilai saja sendiri apakah memang tulisan ini sebegitu buruknya sehingga tidak memberikan apa-apa kepada yang membaca.

Paling tidak, tulisan ini akan memberitahukan kepada pembacanya bahwa menulis sebuah artikel dalam 15 menit adalah sebuah hal yang mungkin, dan bukan hal yang mustahil seperti kata banyak orang.

Kembali ke Juragan Cipir Untuk Mengobarkan Semangat Ngeblog Kembali

Boleh lah Anda ketawa. Tidak masalah. Kebanyakan blogger Indonesia tahu bahwa salah satu blog terkenal ini, Juragan Cipir, sudah lama tidak diupdate. Tidak ada lagi tulisan baru yang diterbitkan oleh pemiliknya, si legendaris Indri Lidiawati.

Saya tahu dan menyadari hal itu.

Disana juga saya tidak banyak membuka artikel-artikel yang sudah ada karena kebanyakan saya sudah membacanya bahkan beberapa kali.

Lalu untuk apa saya lakukan hal itu kalau tidak berniat membaca?

Jawabannya ....


Mencoba mengobarkan semangat ngeblog pada diri saya sendiri.

Selama beberapa waktu terakhir kesibukan mengurus warga di lingkungan membuat kehidupan saya sebagai blogger menemui hambatan. Perhatian teralihkan dan lambat laun ternyata hal itu berpengaruh sekali terhadap aktifitas ngeblog. Konsistensi ngeblog menjadi sangat terganggu.

Tidak berarti saya seratus persen hiatus dan tidak menulis. Masih, saya masih menulis setidaknya sekali sehari.


Sayangnya, hal itu bagi saya sendiri adalah sebuah level terendah karena sebelum ini saya masih memproduksi paling tidak 2-3 artikel dalam 24 jam. Sebelum itu bahkan bisa 5-10 artikel. Maklumlah koleksi blog saya lumayan banyak, jadi angka 5-10 artikel itu adalah jumlah minimum dan seharusnya justru harus lebih dari itu.

Nah, walau kata banyak orang 1 artikel perhari sudah bagus, bagi saya sebenarnya kurang jauh. Performa dan produktifitas saya menurun drastis.

Setelah dipelajari beberapa waktu, masalah utama adalah soal semangat yang menguap entah kemana. Keasyikan mengurus dan terlibat dalam kepengurusan RT membuat ngeblog seperti disingkirkan.

Alhasil, semangatnya hilang entah kemana.

Untuk mencoba mengembalikan semangat yang hilang itulah saya kembali ke Juragan Cipir.

Bukan untuk mencari tulisan baru, saya sudah tahu tidak akan menemukan hal itu. Pemiliknya entah lagi sibuk ngapain di belahan dunia lain. Juga saya mengabaikan tulisan yang bukan ditulis oleh Indri Lidiawati.

Terus terang kurang seru baca karya penulis yang lain.

Kenapa demikian? Karena ada satu ciri khas dari tulisan ala Mbak Indri di blognya itu dan tidak ada di artikel-artikel karya blogger lainnya.

Ciri itu adalah semangat yang menggebu-gebu dari sang pemilik. Semangatnya mengejar penghasilan Adsense yang besar. Semangatnya menghasilkan ribuan tulisan. Semangatnya berbagi. Semangatnya menceritakan tentang kehidupannya sebagai blogger dan Adsenser.

Itulah yang saya cari.

Karya tulis Mbak Indri tidaklah luar biasa. Biasa saja. Standar dan normal. Tetapi, semua bagi saya menjadi "luar biasa" ketika jiwa dan semangat pemiliknya ada disana. Karakter, sifat dan semangatnya sang Indri Lidiawati itu menular.

Sesuatu yang saat ini saya butuhkan untuk mengembalikan kadar semangat ngeblog kembali ke level semula. Saya butuh itu untuk menjadi aktif kembali dalam menulis. Satu artikel perhari tidak cukup bagi saya, entahlah bagi orang lain. Saya mau lebih dari itu.

Tidak ada masalah dengan ide. Saya sendiri masih menyimpan banyak sekali ide dan foto yang belum dituangkan jadi tulisan.

Yang jadi masalah adalah perubahan dalam diri saya sebagai blogger yang mulai termakan oleh kegiatan di dunia nyata. Hal itu harus segera dibenahi karena kalau tidak maka akan terus menurun dan saya pada akhirnya menjadi tidak produktif lagi.

Nah, berkunjung dan bermain di Juragan Cipir adalah salah satu cara untuk mengembalikan semua pada posisi sebelumya.

Apakah berhasil? Saya rasa YA. Setidaknya tulisan ini adalah hasil setelah 5 menit selesai menutup blog legendaris itu.

Yang lain, akan menyusul kemudian.