Kalau Bisa Berbagi Lebih Banyak Kenapa Harus Berbagi Sedikit

Kalau Bisa Berbagi Lebih Banyak Kenapa Harus Berbagi Sedikit

Tercenung juga membacanya. Sebuah kalimat yang dibaca di salah satu  kolom komentar di forum IAPD (Indonesia Adsense Publisher Discussion) yang mengatakan "Kalau blogger tutorial sih, posting sebulan sekali juga cukup".

Bukan karena salah. Tidak salah sama sekali karena biasanya para blogger tutorial mengandalkan penggunaan teknik SEO (Search Engine Optimization). Sebuah artikel yang mereka optimasi biasanya memang cukup menjaring ribuan pembaca karena setelah itu sang artikel akan dicarikan backlink "berkualitas" (kata mereka yah, bukan saya).

Jadi, perkataan itu tidak salah. Bahkan, sangat efisien dalam penggunaan tenaga dan waktu dan hasilnya optimal (ratio artikel dan pengunjung bagus, alias tulisan sedikit pengunjung berlimpah). Sangat profitable alias menguntungkan.

Hanya, dan hanya.

Mungkin, karena saya bukan blogger tutorial, dan bukan pula seorang internet marketer, saya memandang pernyataan itu sebagai sebuah hal yang aneh, janggal. Bertentangan sekali dengan norma-norma yang diajarkan kepada saya sejak kecil, seperti :

1. Berbagilah sebanyak mungkin (dalam kebaikan)
2. Walau kamu tidak kaya, sisihkan sebagian untuk membantu orang lain yang membutuhkan
3. Ilmu itu tidak akan berkurang dan bahkan akan bertambah kalau dibagi

Nah, sekarang, sebagai seorang blogger yang punya blog, saya memiliki kesempatan lebih besar untuk berbagi. Bukan dalam artian materi tetapi dalam artian informasi, pengetahuan, dan banyak hal lain. Ruang yang sangat luas yang bisa dipergunakan untuk membantu orang lain dengan cara selain memberi uang atau sumbangan.

Tetapi, bukankah ruang itu akan mubazir ketika saya berbagi sangat sedikit. Sekali sebulan saja. Padahal, saya punya cukup banyak hal yang bisa dibagi, seperti pengalaman sebagai orangtua, pengalaman sebagai marketing, pengalaman sebagai blogger, pemikiran saya tentang lingkungan, pengetahuan saya tentang fotografi, pengetahuan tentang Bogor dan rasanya masih banyak hal lainnya.

Lalu, kenapa tidak dibagi sebanyak-banyaknya?

Mengapa harus sebulan sekali?

Tentunya, saya juga menyadari bahwa manusia punya keterbatasan, waktu, tenaga. Tidak mungkin berbagi itu semua sekaligus, bukan karena tidak mau, tetapi karena batasan manusia.

Tetapi, dengan sedikit peningkatan kemampuan menulis dan manajemen waktu, maka saya akan bisa berbagi lebih banyak daripada hanya sekedar sekali sebulan. Bisa puluhan kali dilakukan dalam bentuk artikel atau tulisan.

Toh caranya mudah dan bisa dilakukan tanpa mengorbankan waktu untuk keluarga dan mencari nafkah.

Lalu, mengapa harus sebulan sekali? Kalau bisa berbagi lebih banyak, kenapa harus berbagi sedikit saja?

Terus merenung, akhirnya saya mendapat beberapa dugaan. Mungkin yang mengatakan orang super sibuk?  Mungkin yang mengatakan pengetahuannya terbatas? Mungkin yang berkata adalah para penjual yang berpikir untung rugi? Dan masih banyak "mungkin" lainnya.

Entah yang mana yang benar. Tidak lagi penting. Karena, saya rasa prinsip berbagi lebih banyak akan lebih baik dalam hal ini. Jadi, saya akan sisihkan prinsip sebulan sekali cukup.

Saya tidak mau jadi orang pelit.

Setiap Tulisan Pasti [HARUS] Memiliki Struktur

Setiap Tulisan Pasti Memiliki Struktur

Pernahkah menyadari bahwa setiap hasil karya tulis itu memiliki pola dan struktur di dalamnya. Bukan cuma karya tulis resmi seperti skripsi, laporan, atau yang sejenisnya, tetapi semua karya tulis.

Bahkan karangan anak SD sekalipun sudah memiliki pola itu. Setiap karya tulis adalah sebuah rangkaian kata dan kalimat yang terstruktur. Tidak mungkin tidak.

Dasarnya, struktur sebuah tulisan  harus seperti ini :

  1. Pembukaan
  2. Isi
  3. Penutup
Sesederhana itu? Ya, memang dasarnya sederhana sekali.

Tidak ada sebuah karya tulis tanpa "pembukaan" dan tidak mungkin pula tidak "berakhir". Kegiatan menulis adalah bagian dari kehidupan manusia dan tidak terlepas darinya. Maka kodrat-kodrat alami seperti "Ada awal dan ada akhir" juga mengikat.

Yang membuat sebuah tulisan karya orang dewasa berbeda (terasa lebih enak dibaca) dibandingkan dengan tulisan anak SD (Sekolah Dasar) adalah tulisan orang dewasa "biasanya" memiliki struktur yang jelas. "Biasanya" (dalam kutip) bukan berarti selalu.

Karena memang itulah dasarnya. Sebuah tulisan yang baik biasanya akan membuat pembacanya "melihat/merasakan" hal itu saat membaca. Tulisan yang tidak baik, alias tidak enak dibaca, mayoritas disebabkan karena pembaca tidak merasakan struktur karangan.

Mengapa demikian? Karena struktur tulisan yang jelas akan mempermudah otak pembaca mengikuti runtutan informasi yang hendak disampaikan. Hal ini akan membantu perpindahan "ide" dari kepala si penulis ke kepala si pembaca dengan mulus. Struktur yang tidak jelas akan membuat otak pembaca harus hilir mudik sibuk mencari dibandingkan menyerap informasi yang disampaikan.

Semakin baik strukturnya, biasanya, semakin baik pula tulisannya. (Biasanya yah, karena sebenarnya masih banyak hal lain yang mempengaruhi).


Jika seseorang ingin menjadi seorang penulis yang baik, maka ia harus mampu menyajikan idenya dalam bentuk tulisan yang memiliki struktur yang jelas. Ia harus terus menemukan cara agar pembacanya bisa mengetahui mana bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir.


Bukan berarti harus dipisah-pisahkan dalam bentuk Sub-Judul. Sub-Judul hanya merupakan salah satu teknik saja, bukan keharusan. Hal seperti itu hanyalah merupakan pengembangan dari struktur dasarnya, awal, isi, dan akhir saja. Tanpa sub-judul pun, jika sebuah tulisan ditulis dengan baik, maka pembaca akan "menemukan" strukturnya dengan mudah.


Mau panjang, mau pendek, semua harus mengacu pada struktur dasar. Jika panjang tetapi strukturnya jelas, ya no problem. Pendek tetapi tanpa struktur yang jelas, ya pembaca akan tetap susah menangkap isinya. Begitu juga sebaliknya.

Itulah mengapa seorang penulis harus terus berusaha memastikan tulisannya memiliki struktur yang jelas.

Hal itu bisa dilakukan dengan beberapa hal sederhana, seperti
  • Penggunaan Sub Judul (terutama untuk tulisan yang panjang)
  • Membuat 1 paragraf pembuka dan 1 paragraf penutup
  • Menyempitkan ide karena semakin sempit sebuah ide, maka semakin mudah dibuatkan strukturnya, semakin lebar sebuah ide, maka semakin sulit dan rumit strukturnya
  • Membuat kerangka karangan, walau bukan keharusan karena penulis yang sudah berpengalaman, bahkan tanpa membuatpun bisa menghasilkan tulisan terstruktu
Mudah dikatakan, dan memang tidak sulit menuliskan hal-hal seperti di atas, tetapi pada kenyataannya, sulit dilakukan. Butuh banyak latihan dan ketekunan untuk menghasilkan tulisan dengan struktur yang jelas. Akan banyak "trial and error" dalam perjalanannya.

Saya pun masih terus belajar untuk membuat struktur tulisan menjadi jelas. Padahal, sudah tiga tahun lebih saya menekuni dunia tulis menulis sebagai blogger.

Tulisan ini adalah salah satu hasil latihannya.

Entah apa sudah terstruktur dengan baik atau belum. Namanya juga baru belajar.

Bagaimana menurut Anda?

Lama Waktu Menulis Tidak Menentukan Kualitas Artikel

Lama Waktu Menulis Tidak Menentukan Kualitas Artikel

Pilih mana? Menulis setiap hari dan menghasilkan artikel biasa-biasa saja atau menulis 3 hari atau seminggu sekali dan menelurkan artikel yang berkualitas, bermanfaat, dan luar biasa?

Bukan saya yang mengatakan.

Gaya perbandingan seperti banyak sekali dipergunakan oleh para internet marketer untuk menekankan bahwa menulis setiap hari adalah kesalahan. Seharusnya gaya yang dipakai adalah gaya mereka "yang menekankan pada kualitas dan bukan kuantias". 

Terus menerus, hal itu didengungkan oleh mereka yang gemar menenggak pemikiran para salesman di dunia maya ini.  

Dan, terpaksa saya harus bilang bahwa hal seperti ini adalah KONYOL. Bukan berarti saya tidak bisa menghargai pendapat dan pandangan orang, tetapi ada sebuah kesalahan logika (walau terkadang dianggap benar oleh banyak orang). Kesalahan yang sangat besar sebenarnya.

Cobalah mencari jawaban untuk dua pertanyaan dibawah ini :

1. Seorang anak berusia 5 tahun membutuhkan waktu 5 jam penuh untuk memasak sayur bayam . Sementara itu seorang ibu rumah tangga hanya memerlukan waktu 30 menit untuk masakan yang sama

Pertanyaan : Mana masakan yang lebih enak?

2. Seorang blogger yang baru menekuni bidang tulis menulis kurang dari satu tahun membutuhkan waktu seminggu. Sementara Raditya Dhika, blogger, komedian, dan penulis buku, membutuhkan waktu hanya satu jam untuk melahirkan sebuah artikel

Pertanyaan : Mana artikel yang lebih bagus dan berkualitas?

Bisa temukan jawabannya?

Jawaban saya adalah :

1. Kemungkinan, hasil masakan si ibu rumah tangga akan lebih enak. Tentunya  dengan pengalaman dalam mengelola rumah tangga yang lebih lama dan banyak, termasuk dalam halmemasak, ia memiliki kemampuan dan pengetahuan lebih dalam mengolah bahan masakan. Belum lagi sang anak berusia 5 tahun, biasanya belum paham betul cara memasak dengan baik

2. Kemungkinan, tulisan Raditya Dhika akan lebih baik. Alasan yang sama dengan si anak dan ibu rumah tangga di atas. 

Betul nggak?

Kata kemungkinan tetap dipakai dan bahkan dimiring dan ditebalkan, karena hal itu bukanlah sebuah kepastian. Tidak bisa dipastikan sebelum dibuktikan sendiri, yaitu dengan mencicipi hasil masakan keduanya , atau tanpa membaca hasil tulisan sang blogger dan Raditya Dhika tadi.

Tidak bisa dipastikan dan semua masih dalam batas kemungkinan. Lama waktu produksi tidak pernah menjadi tolok ukur dalam penentuan kualitas dimanapun, bahkan di pabrik manufaktur sekalipun. Kualitas hanya bisa ditentukan setelah hasil keluar , diperiksa dan diteliti. Tidak pernah ada produsen yang bisa menentukan kualitas hanya dengan melihat lama waktu yang dipergunakan untuk menghasilkannya (kecuali di bidang jasa pelayanan seperti hotel dimana respon yang cepat dianggap menguntungkan dan memberi nilai lebih pada kualitas pelayanan, tetapi tidak menentukan kualitas secara keseluruhan).

Sama halnya dengan menulis. Lama waktu menulis tidak menentukan kualitas artikel. Sama sekali tidak. Kalau ada yang mengatakan itu, berarti ia sebenarnya sedang menggiring opini agar pemikiran orang lain mengikuti pandangannya saja.

Ia memanfaatkan celah "waktu yang lebih lama" dengan harapan pembaca berpikir bahwa "ia melakukan segalanya untuk meriset, menyusun kata perkata, mengedit, dan sebagainya dalam menulis". Padahal, bisa jadi ia hanya nonton TV, bermain dengan anak, berdagang, dan entah berapa ribu kemungkinan lain.

Penggiringan inilah yang kerap dipakai para internet marketer atau blogger di bidang tutorial blogging untuk mengarahkan orang lain. Mereka memanfaatkan kodrat bahwa manusia gemar berasumsi, bergosip, menduga dan berkhayal. 

Oleh karena itu, tidak heran banyak orang ternyata mengiyakan bahwa lama waktu menulis menentukan kualitas artikel yang ditulis. 

Padahal, faktor-faktor yang menentukan kualitas adalah :

  • Pengetahuan : seorang yang tidak tahu cara menggoreng telur, sulit menghasilkan telur dadar yan enak
  • Skill : seorang montir yang sudah bekerja di bidangnya 10 tahun, akan memiliki skill yang lebih mumpuni dibandingkan montir yang baru 3 bulan menekuninya
  • Kreatifitas : sebuah gelas plastik di tangan orang tidak kreatif akan masuk ke tong sampah, di tangan orang kreatif bisa berubah menjadi hiasan dinding, pot, dan banyak lagi
  • Pengguna : jangan lupa mereka adalah juri penentu dan pemberi nilai, seorang murid yang menyelesaikan ujian, tidak menilai ujiannya sendiri, gurulah yang memberi nilai 8 atau 3
Pernyataan yang mengaitkan waktu menulis dengan kualitas adalah menentang kenyataan sendiri. Bisa diduga mereka yang melakukannya, entah kurang pengetahuan, atau sedang punya niat untuk mempromosikan pendapatnya / barang dagangannya sendiri.

Khas gaya salesman, penjual. 

Gigih.

Tidak peduli logika yang dipakai salah, yang penting bagi mereka adalah dagangan mereka laku terjual. Karena itulah, tidak mengherankan kebanyakan tulisan berkaitan dengan kualitas akan selalu digiring pada pengukuran lama waktu menulis sebagai penentu kualitas.

Hal ini dilakukan bukan saja oleh internet marketer Indonesia, tetapi juga banyak yang seprofesi di luar negeri. Penekanan terhadap pentingnya menulis dalam waktu yang lama.

Meski sebenarnya unsur itu tidak pernah diperhitungkan dalam menilai kualitas apapun di dunia nyata.

Itulah mengapa pandangan itu saya sebut K.O.N.Y.O.L 

Jauh sekali dari logika dan kenyataan.

Tips Promosi #4 : Membuat Jumlah Pembaca Tampak Besar Dengan Persentase

Tips Promosi #4 : Membuat Jumlah Pembaca Tampak Besar Dengan Persentase

Pernah terbayang bagaimana membuat orang percaya kepada kita lebih dari yang seharusnya? Bagaimana membuat orang yakin bahwa jika mereka mau mengikuti cara yang kita pakai padahal data yang ada sebenarnya tidak mendukung?

Mudah saja. Buatlah data tersebut sedemikian rupa sehingga terlihat lebih besar dari seharusnya, pergunakan teknik "magnifying" alias memperbesar. Kalau dibuatkan analogi sederhana (anekdot) :

1. Anda membuat kue ukuran 10 cm x 10 cm
2. Pelanggan mengeluh karena kuenya dianggap terlalu kecil

Bagaimana membuatnya "tampak" besar?  Mudah saja berikan "kaca pembesar" (Magnifying Glass). Pasti kue itu akan terlihat besar.

Begitupun dalam hal promosi. Perkembangan jumlah pembaca yang sangat kecil, tentunya tidak akan membuat orang percaya terhadap keahlian seorang blogger. Bagaimana orang mau ikut caranya kalau pertumbuhannya sangat tidak signifikan dan tidak beda dengan yang lain?

Pemecahannya, berikan kaca pembesar dalam artikel kita atau pada saat kita melakukan promosi. Buat data yang sebenarnya biasa saja, bahkan kecil, menjadi meraksasa.

Caranya dengan memakai persentase. Ya, persentase, bisa dilihat di keyboard komputer berlambang "%".

Misalkan,

- jumlah pembaca bukan Januari 10 Pengunjung Unik (Unique Visitor - UV)
- jumlah pembaca bulan Februari 100 UV

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan kenaikan itu. Hanya bertambah 90 UV saja. Bisa dianggap sesuatu yang normal.

Normal.

Sulit untuk meyakinkan pembaca bahwa kita adalah orang yang mampu dan memiliki keahlian luar biasa dengan data seperti itu.

Tetapi, coba buat judul artikel " Cara Menaikkan Jumlah Pengunjung Blog Hingga 1000% dalam satu bulan". Kesannya berbeda bukan daripada "Cara Menaikkan Jumlah Pengunjung Blog Hingga 100 UV".

Mana kira-kira yang akan dipilih? (Sudah tahu kan jawabannya?)

Mengapa demikian karena angka dengan memakai persentase "lebih besar" daripada yang sebenarnya. Kata per-sen menunjukkan bahwa sebenarnya hitungan harus dihitung dari 1/100. Jadi, kalau 1000% sebenarnya hanya 10 kali lipat saja.

Ditambah dengan angka awal yang rendah (10), maka pembesaran semakin besar saja. Coba saja kalau bulan Januari 10 UV dan bulan Februari 1000 UV, maka pembesarannya menjadi 10000%.

Terkesan sangat besar bukan?

Tentunya, hal itu akan menghadirkan dampak positif dalam diri pembaca. Mereka sering luput memperhitungkan simbol % di belakang dan sudah langsung terpaku pada angka di depannya. Perlu sedikit lebih teliti dan banyak orang terlewat hal kecil seperti ini.

Hal inilah yang memberi dampak psikologis dalam diri pembaca berupa rasa percaya terhadap apa yang kita tulis.

Padahal sebenarnya data yang ada biasa saja.

Tips Promosi #4 : Membuat Jumlah Pembaca Tampak Besar Dengan Persentase

Trik promosi dengan membuat jumlah pembaca tampak besar ini, merupakan trik yang selalu dipakai para pemasar. Tujuannya memang untuk membangkitkan rasa percaya calon pembeli kepada dirinya.

Jika mencermati hasil SERP dalam berbagai bahasa, trik ini dipergunakan biasanya oleh kalangan internet marketer. Tentu saja, karena mereka memang berkeinginan agar kredibilitasnya meninggi. Oleh karena itu, mereka lebih suka menampilkan angka persentase dibandingkan angka sebenarnya.

Perhatikan screenshoot di atas dari hasil pencarian Google.

Lalu, lihat screennshoot data dari artikel tersebut jika diklik.

Tips Promosi #4 : Membuat Jumlah Pembaca Tampak Besar Dengan Persentase

Butuh kejelian untuk tidak terjebak membayangkan sesuatu yang luar biasa. Lihat grafik dan beberapa data lain untuk menemukan data sebenarnya.

1) Perhatikan bahwa pertumbuhan tersebut adalah per-minggu bukan perhari (berarti perhari sesi kunjungan yang ada rata-rata 450 saja). Padahal mungkin justru itu yang ada di benak yang membaca . Mereka sudah berasumsi data ini adalah perhari
2)  Perhatikan berapa bulan yang diperlukan - Mengapa yang dijadikan perbandingan adalah bulan Februari dan Mei? (Kemana data bulan Maret - April?)

Pernah terpikirkan? Kemungkinan besar TIDAK karena jarang sekali pembaca mau meneliti data secara rinci karena biasanya sudah terpenuhi kekaguman sejak awal oleh persentase yang besar.

Teknik promosi "Kaca pembesar", membuat jumlah pembaca tampak besar dengan angka persentase ini. Hal lain juga terlihat pada screenshoot satu lagi dari artikel yang sama.

Tips Promosi #4 : Membuat Jumlah Pembaca Tampak Besar Dengan Persentase
Bagaimana bisa pertumbuhan sebegitu besar? Yah karena dasar yang dipakai kecil sekali. Seperti contoh sebelumnya bahwa untuk mendapat angka pertumbuhan besar, pergunakan angka awal yang kecil. Maka persentase pertumbuhan (perbandingan) akan sangat besar. (Coba , jika angka awal 5 dalam sebulan menjadi 200, maka berapa persentase pertumbungannya?)

Padahal, data sebenarnya tidak terlalu istimewa. Justru semakin banyak yang "terjebak" karena teknik "pembesaran" ini, maka akan semakin bagus buat dirinya karena nanti dia bisa membuatkan screenshot baru berdasarkan data yang sudah membesar. Ia akan memakai teknik yang sama lagi, dan membuat angka baru menjadi "raksasa".

Trik ini bukanlah pembohongan. Sah. Mereka memakai data yang valid dan terbukti benar. Yang dilakukan hanyalah agar perhatian yang membaca data teralihkan pada sesuatu yang memang sang penyaji mau dilihat.

Mereka bisa memilih menampilkan 1414 (seminggu) vs 132 (seminggu) tetapi hal itu tidak memberikan keuntungan psikologis pada diri pembaca.

Mereka tidak berbohong dan menyembunyikan data. Yang salah ya yang membaca karena tidak teliti.

Itulah inti dari trik membuat jumlah pembaca tampak besat dengan persentase.

Silakan mencoba.

Memandang Komunitas Blogger Sebagai Pasar Pembaca - Banyak Blogger Tidak Peduli Menambah Teman

Memandang Komunitas Blogger Sebagai Pasar Pembaca

Sebuah komunitas biasanya dibangun berdasarkan idealisme untuk mengumpulkan orang-orang yang memiliki minat yang sama dan menyediakan wadah untuk bersilaturahmi, bersosialisasi, dan bisa saling mengembangkan diri. Begitu juga dengan yang namanya komunitas blogger, baik di dunia maya ataupun dunia nyata, dasarnya tetap sama, yaitu sebagai wadah para blogger berkumpul.

Sejak berkembangnya kegiatan blogging atau ngeblog, sudah tidak terhitung banyaknya komunitas blogger yang lahir, baik berdasarkan kesamaan lokasi, niche, bahkan gender (ingat komunitas Emak-Emak Blgger dan Blogger Perempuan).

Dalam banyak hal, komunitas-komunitas seperti ini berhasil membantu pengembangan banyak blog dan blogger. Banyak sekali pemula yang merasa terbantu dengan kehadiran dan iklasnya para senior berbagi kepada anggota komunitas lain. Mereka bisa memahami banyak hal mengenai cara mengelola blog yang baik.

Komunitas blogger adalah tempat menambah teman dan wawasan dalam dunia blogging.

Itulah memang bagaimana sebuah komunitas seharusnya. Wadah tempat sharing dan saling membantu demi kebaikan bersama.

Sayangnya, manusia tetaplah manusia. Ketamakan dalam diri manusia tidak berbatas.

Keberhasilan banyak blogger meraih ketenaran dan mengeruk uang dari blog, membuat banyak orang terinspirasi dan terdorong untuk mendapatkan hal serupa. Berbondong-bondong mereka ngeblog dengan tujuan tidak lagi untuk berbagi, tetapi untuk meraup uang.

Komersialisasi blog pun terjadi.

Jutaan orang terjun ngeblog dengan harapan yang sama, uang. Jutaan orang terkena infeksi virus komersialisasi blog. Mereka berebut untuk menjadi terkenal dan berkhayal bisa mendulang uang.

Persaingan pun terjadi. Semua berebut untuk "dikenal" karena dengan semakin dikenal, maka semakin besar kesempatan merubahnya menjadi angka di rekening bank atau beberapa gepokan uang kertas.

Kompetisi dan persaingan berlangsung ketat.

Tidak lagi mudah menjaring pembaca. Semua harus berebut dan saling menonjolkan diri. Mereka ingin blognya dibanjiri pembaca.

(Tidak heran kan, mengapa kehadiran para internet marketer diterima dengan tangan terbuka? Golongan yang sebenarnya berkutat dalam bisnis ini dipandang sebagai suhu yang mampu menunjukkan cara, tips, dan trik menuju ketenaran. Banyak trik mereka dipergunakan oleh para blogger)

Persaingan yang ketat membuat banyak blogger menjadi mata gelap. Pengunjung blog yang tidak kunjung bertambah membuat panas di hati semakin tinggi. Berbagai hambatan dan kesulitan dalam mempopulerkan blognya membuat mata mereka terpejam. Mereka tidak peduli lagi siapa yang datang ke blognya.

Uang tidak kenal saudara. Pepatah kuno, tetapi benar adanya. Ketika ketamakan hadir di hati, jangankan teman, saudara sendiri saja kalau pelru "dimakan".

Komunitas-komunitas blogger yang sebelumnya adalah wadah mencari teman, saudara, dan pengetahuan dilihat dari sisi lain. Orang-orang di dalamnya tidak lagi dipandang sebagai "caon teman", orang-orang ini dipandang sebagai "calon pembawa ketenaran" .. eh calon pembaca yang potensial menjadikan diri ketenaran.

Banyak blogger tidak lagi peduli idealisme dari mengapa sebuah komunitas berdiri. Ide dasarnya apa. Mereka hanya berpikir bahwa kalau mereka bisa merubah member sebuah komuniast menjadi pembaca, mereka bisa semakin tenar dan mendatangkan uang.

Itulah mengapa mereka berusaha mempromosikan dirinya pada komunitas tersebut. Mereka tidak lagi terfokus untuk berteman, mencari pengetahuan. Alih-alih melakukan itu, banyak blogger menjadi gemar berbicara tentang dirinya sendiri dan memamerkan keberhasilannya disana dengan tujuan supaya orang lain terpikat dan mau datang ke blognya.

Mereka merubah diri dari blogger menjadi internet marketer yang memang memandang komunitas bloger lebih sebagai sebuah pasar pembaca.

Tidak heran. Entah berapa banyak komunitas blogger di dunia maya yang kemudian berubah menjadi ajang promosi blog masing-masing. Yang bodoh, akan terus menyebar link aktif dan tidak peduli bahwa hal itu adalah tindakan spammer. Yang agak pintar, sibuk mempromosikan betapa hebat dirinya, betapa renyah dan gurih tulisannya, betapa pandai dirinya, betapa berhasil blognya (walau pengunjungnya sebenarnya masih ratusan saja).

Semua sibuk berbicara tentang dirinya. Tidak ada lagi obrolan timbal balik dan saling membantu secaa tulus. Banyak yang sibuk melihat orang yang mengajaknya berbicara sebagai "calon teman", tetapi lebh terfokus pada "mudah-mudahan dia mau datang ke blog saya, jadi statistik pengunjung blog saya bagus"

Tidak ada lagi ketulusan dan keiklasan berbagi. Semua punya niat sesuatu di belakangnya.

Idealisme komunitas bergeser dan berubah.

Itulah alasan di balik banyak komunitas blogger yang kemudian mati. Disana idealisme dasar terbentuknya sebuah komunitas bergeser dan menjadi ajang pertempuran berebut pembaca. Sebuah komunitas akan kehilangan fungsinya ketika idealisme mereka bergeser dan berubah.

Sayang. Tetapi, itulah fakta. Ketika ketamakan hadir, maka mata akan terpejam. Kepedulian tidak akan hadir lagi.


Oleh karena itu, siapapun yang memandang komunitas blogger sebagai pasar pembaca potensial, di dalam hati ada bibit "ketamakan" yang sedang tumbuh subur. Ketamakan yang berdasar pada keinginan untuk "tenar" dan "uang". Ketamakan yang pada akhirnya bisa mematikan komunitas itu sendiri.

Setidaknya itulah pandangan saya. Silakan memiliki opini lain kalau mau.

Pembuktian Sebuah Artikel Menarik Atau Tidak Butuh Waktu

Pembuktian Sebuah Artikel Menarik Atau Tidak Butuh Waktu

Semua blogger atau penulis sudah pasti "merasa" bahwa tulisan yang mereka terbitkan adalah sesuatu yang menarik untuk dibaca. Tentu saja, kalau mereka tidak merasa seperti itu, untuk apa mereka menulis dan kemudian mempublish hasil karya mereka.

Kata "merasa" ditebalkan dan dibuat miring pada paragraf di atas bukanlah kata kunci atau keyword, tetapi merupakan penekanan saja. Penekanan perlu dilakukan karena kalimat di atas mengacu pada penilaian subyektif seseorang. Seorang blogger boleh dan wajar merasa dia sudah menulis artikel yang menarik dan berkualitas, tetapi hal itu adalah pandangan yang subyektif, opini, dan belum terbukti.

Ia bisa mengklaim, tetapi hal itu tidak membuktikan apa-apa. Hal itu tidak berarti artikel buatannya "benar-benar" seperti apa yang diklaimnya. Untuk mendapatkan pandangan yang obyektif, sama seperti banyak hal lain, butuh pembuktian. Butuh konfirmasi yang bisa menjadi pembuktian sebuah artikel menarik atau tidak secara obyektif.

Sayangnya, hal itu tidak bisa dilakukan oleh sang blogger sendiri. Ia tidak memiliki hak untuk itu. Yang memiliki HAK untuk menilai baik atau tidak, menarik atau membosankan sebuah karya tulis berada di tangan para PEMBACA, bukan si penulis.

Sang penulis tidak bisa memaksa orang lain untuk setuju dengan pendapatnya. Tidak seharusnya pula ia melakukan berbagai usaha agar orang lain menyebut karyanya menarik, berkualitas, hebat jika ia benar-benar mau mendapatkan penilaian yang obyektif dan tidak memihak.

Untuk itu akan selalu dibutuhkan waktu untuk melakukan berbagai proses pembuktian.

Dalam dunia blogging, setelah tombol publish ditekan, maka yang bisa dilakukan sang blogger hanyalah menunggu. Ia harus menunggu :

1) berapa kali artikel itu dibaca
2) berapa banyak komentar yang hadir disana
3) apakah komentarnya positif atau negatif
4) mampukah artikel itu menarik pembaca terlibat untuk memberikan komentar baik pro dan kontra
5) berapa pujian diterima, berapa kritikan tentang artikel tersebut yang masuk

Memang, kata "menarik" sendiri adalah sesuatu yang relatif, alias tidak memiliki kriteria pasti, tetapi berdasarkan pengalaman, ada beberapa hal yang bisa menjadi indikasi sebuah artikel menarik. Jawaban dari hal-hal tersebut di atas bisa menjadi indikator keberhasilan penulis dalam menghasilkan artikel yang baik.

Tentunya, harus juga ditetapkan batas waktu supaya penmbuktian sebuah artikel menarik atau tidak bisa diukur. Kalau terlalu pendek jangka waktunya, maka bisa jadi data belum cukup untuk melakukan penilaian, kalau terlalu panjang bisa jadi tulisan sudah dianggap kuno. Penetapan jangka waktu ini juga sesuatu yang subyektif, tetapi angka 3 bulan biasanya sudah cukup untuk mendapatkan data yang cukup untuk pertimbangan.

Bagaimana dengan promosi? Tindakan promosi adalah sebuah usaha untuk menggiring calon pembaca/pembeli untuk melihat apa yang ditawarkan dari sisi yang menairk. Siapapun yang melakukan promosi pada dasarnya tidak berniat mengumpulkan data, tetapi berniat supaya "dagangan"nya laku.

Bila ingin tetap obyektif, maka tindakan promosi tidak seharusnya dilakukan. Itulah mengapa banyak lembaga penelitian dunia, berhati-hati menerima dana bantuan dari perusahaan yang produknya terkait dengan apa yang ditelitinya. Mereka tidak ingin "kemurnian" hasil penelitiannya tercemar oleh kepentingan komersial.

 Nah, barulah setelah jangka waktu terpenuhi data yang hadir bisa dinilai. Jangan lupa pula tetapkan batasan, seperti batasan jumlah pembaca yang mengindikasikan tulisan sebagai menarik atau tidak. Hal ini sebenarnya butuh riset dan survey, tetapi dalam dunia blogging masa kini, angka (menurut pandangan saya):

  • 1-100 : jelek
  • 101-1000 : lumayan
  • 1001-3000 : bagus
  • 3001-10000 : sangat bagus
  • > 10001 : luar biasa

Ini patokan yang saya buat untuk menilai. Silakan buat patokan sendiri.Tidak akan ada yang melarang Anda membuat patokan 100 kali dibaca sudah "bagus" dan sejenisnya, tetapi jangan lupakan juga praktek atau kenyataan di lapangan. Angka 100 kali dibaca bukanlah sebuang angka yang berat untuk dicapai, kebanyakan artikel di dunia maya mudah sekali menembus batasan itu.

Jadi, buat batasan yang paling bisa mewakili kenyataan dan kebiasaan di dunia blogging supaya semain obyektif.

Barulah setelah itu buatkan kesimpulan akhir yang dianggap sebagai hasil pembuktian sebuah artikel menarik atau tidak. Dengan begini, maka klaim bahwa diri sudah berhasil membuat artikel yang menarik memiliki "dasar".

Lama ya? Ruwet juga ya?

Begitulah.

Memang lebih mudah bertindak sebagai salesman yang gembar-gembor bahwa diri sendiri sudah menghasilkan artikel yang baik, berkualitas, menarik, dan bermanfaat.

Tidak susah buka mulut atau mengetikkan jari di atas keyboard dan berkata "artikel saya bagus dan menarik. Jadi, kalau kamu mau seperti saya, yang sudah hebat dan terkenal, ikuti apa yang saya sarankan". Mudah sekali. Siapapun bisa. Semua bisa klaim dan nyap-nyap seperti tukang kecap seperti itu.

Tetapi, tidak akan pernah mudah membuktikan hal itu. Banyak proses pembuktian yang harus dilakukan agar apa yang dikatakan didukung oleh "bukti" dan bukan sekedar cetusan orang sombong bin narsis. Selalu butuh waktu yang panjang dan harus melakukan proses pembuktian untuk melakukan pembuktian sebuah artikel menarik atau tidak.

Hal seperti ini juga berlaku dengan jenis-jenis kata lain, seperti artikel bermanfaat, berkualitas, dan lain sebagainya. Semua akan butuh waktu.

Kalau mau, yah. Kalau tidak, ya sementara tetaplah jadi tukang kecap dan gembar-gembor bahwa tulisan kita sudah bagus, hebat, luar biasa, renyah, gurih. Itupun bukan sebuah masalah kan?

Bagaimana pun itu hak Anda. Tapi jangan salahkan orang lain juga kalau ternyata tidak terbukti, mereka kemudian memberi cap Anda sebagai orang yang songong, sombong, narsis. Karena itu hak mereka.

Apa Efek Update Artikel Dalam Jumlah Banyak Terhadap Sebuah Blog?

Apa Efek Update Artikel Dalam Jumlah Banyak Terhadap Sebuah Blog?

Kira-kira apa jawaban dari judul di atas? Adakah efek update artikel dalam jumlah banyak terhadap sebuah blog?

Bisa menebak atau menerka?

Pertanyaan ini diajukan salah seorang rekan dan sahabat sesama blogger dalam sebuah kolom komentar. Ia rupanya menyadari bahwa Maniak Menulis beberapa minggu belakangan dibanjiri oleh tulisan-tulisan baru. Kadang sehari bisa 4 atau 5 buah tulisan.

Sang penanya memahami bahwa pemilik blognya sedang "ngebut" menerbitkan artikel. Dan, rupanya ia ingin mengetahui apakah dampak yang ditimbulkan dari ngebut publish artikel seperti itu.

Apa Efek Update Artikel Dalam Jumlah Banyak Terhadap Sebuah Blog?


Jawabannya : ARTIKELNYA MAKIN BANYAK. BLOGNYA MAKIN GENDUT KARENA KONTENNYA SEMAKIN BANYAK.

Itu saja hal yang pasti dan bisa dijawab saat ini.

Memuaskan? Tidak akan. Pasti tidak sedikit orang yang ingin tahu perkembangannya karena kalau bisa meningkatkan jumlah pembaca, pasti mereka tidak akan segan meniru cara yang sama. Betul tidak?

Sayangnya, saya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Ada terlalu banyak hal yang mempengaruhi perkembangan sebuah blog dan update artikel hanyalah salah satunya. Tidak serta merta penambahan jumlah artikel akan memberikan efek dalam waktu singkat.

Blog Maniak Menulis baru dibanjiri artikel fresh beberapa minggu terakhir saja. Sebelumnya pemiliknya sulit memposting tulisan baru karena keterbatasan waktu. Sempat dalam seminggu hanya 1 kali saja publish tulisan baru.

Jadi, hampir tidak mungkin akan terlihat perkembangan drastis dalam waktu singkat. Hal itu dikarenakan

  1. Domain Authority Maniak Menulis masih sangat rendah, blog ini tidak pernah diberikan asupan backlink sama sekali bahkan dari blogwalking sekalipun
  2. Usia Maniak Menulis belum lama dan bahkan sempat hiatus beberapa bulan
  3. Tidak ada artikel yang dipromosikan kecuali sharing otomatis ke akun Google Plus
  4. Tidak memakai SEO (Search Engine Optimization - Optimasi Mesin Pencari)
  5. Topik Maniak Menulis erat kaitannya dengan menulis di dunia maya, blogging yang sangat ketat kompetisinya 
  6. Memakai domain gratis dari blogspot
Blog ini sangat mendekati idealisme blogging, versi saya, yaitu memfokuskan diri pada menulis saja. Tidak ada tetek bengek lain yang melekat padanya. Bahkan pengurusnya tidak berharap banyak dan benar-benar hanya menginginkan kegembiraan menulis saja.

Jadi, sejak awal tidak ada target atau harapan apa-apa yang diinginkan dari blog MM ini.

Meskipun demikian ada pelajaran yang didapat dari mengelola blog ini. Beberapa tulisan, setelah dicek ternyata mampu bertengger pada peringkat atas SERP (Search Engine Optimization) setelah beberapa bulan diterbitkan. Bukan langsung menanjak ke posisi itu tetapi ada jeda 3-4 bulan sebelum sebuah tulisan naik peringkat.

Itupun tidak semua.

Jadi, efek update artikel dalam jumlah banyak bulan ini, tidak akan bisa terasakan hasilnya pada bulan ini. Mungkin, baru bisa terlihat beberapa bulan ke depan, kalau ada artikel yang bisa nangkring di halaman SERP.

Berbeda halnya dengan blog Lovely Bogor. Blog itu sudah sangat authoritative (dominan) di niche tentang Bogor. Sudah banyak backlink yang masuk secara natural kesana. Setiap artikel baru yang dipublish sering langsung menanjak ke peringkat pertama SERP.

Peringkat Alexa pun membaik.

Efeknya berbeda sekali dengan di Maniak Menulis.

Satu-satunya hal yang sudah pasti terlihat saat ini di blog MM ini adalah jumlah artikelnya yang semakin banyak saja. Jumlahnya bertambah.

Selebihnya, belum diketahui dampak bertambahnya artikel dalam jumlah lumayan dan dalam waktu singkat. Memang ada pertambahan pengunjung, tetapi tidak signifikan dan tidak menunjukkan lonjakan pembaca.

Mungkin, 3-4 bulan ke depan baru bisa diinformasikan efeknya, itupun kalau ada. Juga, kalau saya tidak malas menganalisis data.

Tetapi, saya tetap yakin bahwa penambahan artikel dengan sistem ngebut seperti ini, tetap akan memberikan dampak positif bagi blog ini. Hanya perlu waktu untuk melihatnya.

Bagaimana kalau tidak ada perkembangan apapun?

Yah, kenapa harus pusing. Seperti sudah disebutkan di atas, blog ini bukan blog "pemburu" uang atau ketenaran. Blog ini dibangun berdasarkan idealisme pemiliknya yang benar-benar kecanduan menulis, tentang apapun. Jadi, sebenarnya tidak masalah kalau tidak ada perubahan apapun dalam jumlah pengunjung atau pembaca.

Yang penting enjoy.

Membaca Artikel Tentang Blog Terbaik Indonesia - Buang-Buang Waktu Saja

Membaca Artikel Tentang Blog Terbaik Indonesia - Buang-Buang Waktu Saja

Sudah berapa kali Anda membaca artikel tentang Blog Terbaik Indonesia?  10? 20? Lalu, apa kesimpulan apa yang Anda dapatkan? Benarkah nama-nama yang tercantum dalam daftar itu merupakan blog dan blogger terbaik di Indonesia?

Yah. Saya akui, sudah lebih dari 20 buah artikel tentang hal itu saya baca.

Harapannya, saya bisa mendapatkan pengetahuan yang berharga dari nama-nama yang tercantum dalam daftar. Ilmu yang akan berguna dalam pengembangan diri sebagai seorang blogger.

Kenyataannya yang didapat adalah : SEMUA ARTIKEL TIDAK AKURAT! Bahkan artikel yang ditulis oleh blog internet marketing terkenal seperti PanduanIM juga tidak menunjukkan bahwa tulisannya didukung data yang memadai.

Semua artikel tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang sahih dan benar, melainkan hanya sebagai opini saja. Bahkan, hanya harus dipandang sebagai sebuah usaha sekedar untuk menarik pembaca saja , tidak beda dengan para salesman yang sedang menjual barang dagangannya.

Mengapa tidak akurat?

1. Tidak Ada Kriteria Jelas

Tidak ada satupun artikel yang berani menjelaskan kriteria apa yang dipergunakan dalam membuat penilaian.

Bagaimanapun, membuat peringkat pada sesuatu haruslah berdasarkan sesuatu yang bisa diukur dan dikonfirmasi. Tidak bisa sekedar hanya berdasarkan penilaian subyektif saja.

2. Tidak Ada Kategori

Apakah ada pertandingan tinju dunia yang mempertandingan dua orang petinju berberat badan 55 kilogram dengan yang di atas 80 kilogram? Tidak ada. Berbagai badan tinju dunia membuat kategori dengan spesifikasi yang sama agar tolok ukur penilaiannya sama juga.

Jadi, bisakah memberikan kriteria yang sama antara blog tentang traveling dengan blog tentang internet marketing?

3. Juri Tunggal

Lha, bagaimana bisa adil dan terpercaya kalau hanya ada satu orang saja yang memutuskan menang atau kalahnya? Sudah tidak ada kriteria, tidak ada kategori, juri pun hanya penulisnya saja. Lalu, apakah mereka benar-benar bisa memberikan penilaian yang adil dan tanpa "niat tersembunyi"?

Silakan jawab sendiri.

4. Kebanyakan Hanya Meniru Saja

Kebanyakan blog yang menulis tentang artikel Blog Terbaik Indonesia, isinya sama saja. Nama-nama yang tercantum ya itu itu saja. Sepertinya, semua blogger menggunakan kriteria yang sama, memiliki juri yang sama, dan dilakukan pada saat yang sama.

Tidak ada bedanya sama sekali. Padahal hal itu tidak mungkin terjadi. Bahkan, badan tinju dunia saja ada lebih dari 3 dan masing-masing memiliki banyak hal yang berbeda.

Atau, mungkinkah para blogger hanya saling meniru saja. Melihat bahwa kata kunci Blog Terbaik Indonesia banyak dicari, maka merekapun membuat artikel yang sama dan hanya melakukan rewrite saja. Bukan benar-benar hasil pemikiran, riset, dan datanya sendiri.

5. Tanpa Tahun (Tidak Dibatasi Waktunya)

Bila ada kata terbaik, maka para blogger Indonesia akan dianggap saling berkompetisi satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini, akan selalu ada perubahan dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Itulah mengapa kompetisi sepakbola dimanapun dibatasi

Sangat subyektif dan tidak bisa dipercaya.

Tetapi, saya menyalahkan diri sendiri. Kenapa mau membaca yang seperti itu? Memang, keinginan untuk belajar dari yang terbaik akan selalu hadir dalam diri manusia, dan saya pun masih manusia. Itulah mengapa ketika terjun ke dunia blog, maka untuk mempermudah belajar, saya memakai Google dan memasukkan kata kunci "Blog Terbaik Indonesia".

Harapannya, dengan begitu, akan hadir daftar blog-blog terbaik.

Sayangnya, justru itulah sebuah kesalahan logika berpikir dan membuat saya menjadi "mangsa" para blogger dan internet marketer supaya mau mampir ke blog/website mereka.  Barulah setelah direnungkan ulang, maka terlihat sekali dimana letak kesalahannya.

Saya mengabaikan banyak fakta dan data yang seharusnya sudah terlihat jelas, yaitu :

1. Tidak ada badan khusus di Indonesia yang melakukan survey terhadap keberadaan para blogger Indonesia. Bahkan, Biro Pusat Statistik saja belum memiliki datanya. Hal itulah yang membuat data berapa banyak blog dan blogger Indonesia saja masih tidak jelas

2. Jumlah blog terlalu banyak : menurut dugaan, ada sekitar 3 juta blogger dengan lebih dari 8 juta blog di Indonesia. Mungkinkah melakukan survey sebanyak itu dan menilainya satu persatu? KPU (Komite Pemilihan Umum) saja memerlukan ribuan staf untuk melakukan tugas pemungutan dan penghitungan suara di propinsi terkecil?

Padahal penentuan blog terbaik Indonesia harus ada penilaian. Juga harus dilakukan terhadap semua blog yang ada di Indonesia (karena memakai Indonesia di dalamnya). Bagaimana bisa seorang blogger melakukan penilaian terhadap angka yang besar itu?

Dua fakta sederhana yang seharusnya sudah menyadarkan saya sebelum membaca artikel-artikel tentang blog terbaik Indonesia yang manapun.

Ditambah kemudian, isinya kebanyakan , blog terbaik Indonesia akan berasal dari kalangan blog tutorial tentang blogging, internet marketing. Sesuatu yang tidak mengherankan karena kebanyakan tulisan tentang nama-nama Blog Terbaik Indonesia ditulis oleh kalangan blogger tutorial blogging dan internet marketer.

Jarang sekali yang ditulis oleh blogger di luar kalangan itu. Walau ada pengelola blog gado-gado yang juga membuatnya.

Sifat chauvinistis yang melekat kuat sehingga dunia blogging disempitkan  sebagai dunia blogger tutorial dan internet marketing terlihat dengan jelas. Yang menulis hanya memilih nama-nama dari kalangan sendiri saja, dan susah melihat ke dunia luar.

Terus terang. Sebenarnya, begitu menyadari kesalahan, saya anggap membaca tulisan-tulisan berjudul Blog Terbaik indonesia, Blogger Terbaik Indonesia adalah buang-buang waktu saja. Siapapun penulisnya, baik itu Mas Sugeng atau PanduanIM, sebenarnya tidak benar-benar tahu yang terbaik di dunia blogger Indonesia dan mereka hanya membuat tulisan omong kosong saja dan tidak berdasarkan fakta.

Tetapi, saya menyadari beberapa hal :

a) Dunia blogging adalah dunia kebebasan dan demokrasi, siapapun boleh mengemukakan pendapatnya betapapun anehnya. Jadi, kesalahan saya memandang artikel-artikel seperti ini terlalu serius dan mengharapkan banyak. Kenyataannya, itu hanya sebatas opini dan pendapat saja dan saya harus menghargainya, walau tetap tidak perlu mempercayainya

b) Tidak ada yang sia-sia. Sampah pun jika dipergunakan dan di tangan orang kreatif bisa berguna. Tulisan-tulisan seperti ini sebenarnya bisa berguna bagi diri kita. Meski jelas tanpa data pendukung yang jelas, setidaknya kita bisa belajar dari pengalaman mereka yang dipandang "sukses" oleh orang lain. Disana banyak pengalaman yang bisa digali, tergantung kita bisa memanfaatkannya atau tidak

Jadilah, saya hingga saat ini kadang tetap membaca artikel-artikel dengan judul Blog Terbaik Indonesia , Dunia dalam berbagai versi, walau saya tahu bahwa itu hanyalah opini atau trik blogger dan internet marketer saja untuk menjaring pembaca datang ke blognya. Karena, saya kadang menemukan nama-nama baru yang blognya bisa saya datangi dan kemudian mencari hal-hal yang bisa menambah pengetahuan.

Meski, saya sudah memiliki pandangan yang berbeda jauh dari sebelumya, yaitu tidak ada yang namanya "BLOG TERBAIK" itu. Kalau ada yang mengatakan ada berarti dia mengatakan "OMONG KOSONG" saja.

[PENGALAMAN] Keuntungan Menggunakan Subdomain Blog Yang Sudah Tua dan Authoritative

[PENGALAMAN] Keuntungan Menggunakan Subdomain Blog Yang Sudah Tua dan Authoritative

Punya blog tua yang sudah memakai TLD (Top Level Domain)? Berapa umurnya? 1 tahun? 2 tahun? atau 10 tahun? Kalau punya, dan ingin membuat satu blog lagi, daripada berpikir untuk membeli domain lagi, pertimbangkan untuk membuat subdomain dari domain yang sudah ada.

Lumayan banyak keuntungan menggunakan subdomain. Apalagi kalau blognya sudah tua (berumur dan bukan yang baru). Akan lebih terasa kalau domain itu sudah "authoritative" alias "berkuasa" atau dipercaya oleh mesin pencari.

Alasan utamanya adalah karena

1. Subdomain itu tidak akan dianggap "baru" karena mendapatkan dukungan dari domain utamanya
2. Hasilnya, blog yang dibuat memakai subdomain yang seperti ini cepat sekali diindex oleh mesin pencari, bahkan tanpa mengirimkan sitemap ke Google Webmaster
3. Semakin authoritative domain utamanya, semakin baik posisi artikel yang ditulis di subdomainnya

Pengalaman di Lovely Bogor, yang sudah berumur 3 tahun dan sudah termasuk dipercaya dalam niche tentang Kota Hujan, Bogor, menunjukkan hal itu. Ada 3 website yang dibuat menggunakan subdomain Lovely Bogor, yaitu

a) Lingkungan Hidup : http://lingkungan.lovelybogor.com
b) LB Fotografi : http://fotografi.lovelybogor.com
c) Pojok Menulis : http://pojok.lovelybogor.com

Ada yang ke-4 tetapi belum dijalankan karena keterbatasan waktu.

Contoh ini diperkuat dengan pengalaman "Pojok Menulis" yang pernah terkena hack dan terpaksa pindah dari URL sebelumnya pojokmenulis.lovelybogor.com menjadi yang sekarang. Lebih dari 700 tulisan harus dipindahkan ke URL baru.

Sempat pesimis bahwa Pojok Menulis dengan URL barunya akan menyamai versi sebelumnya. Kenyataannya perlahan tapi pasti blog itu sudah kembali normal dalam waktu 3 bulan saja. Padahal hampir tidak ada artikel baru yang terbit dan foto-foto belum terpasang. Jumlah pembaca secara pasti terus menaik dan hampir mendekati level sebelum kena hack.

Dan tanpa SEO atau promosi yah. Murni hanya pindah isi saja dari yang lama ke tempat yang baru.

Semua itu, saya duga karena blog/domain utama, Lovely Bogor sudah cukup tua dan authoritative, sehingga apa yang ditulis di anak-anaknya (subdomain) akan dipandang sama nilainya.

Itu keuntungan utama.

Keuntungan lainnya, yah tidak perlu keluar uang lagi buat beli domain dan hositng terpisah. Ngurusnya juga gampang.

Soal keren atau tidak profesional yang sering diungkapkan para penggemar TLD, tidak juga. Banyak tulisan di LB Fotografi, yang membahas tentang dunia potret memotret dishare oleh banyak orang. Beberapa diantaranya bahkan nangkring di ranking atas SERP.

[PENGALAMAN] Keuntungan Menggunakan Subdomain Blog Yang Sudah Tua dan Authoritative
Jadi kenapa tidak? Banyak keuntungan membuat website baru menggunakan subdomain.

Keburukannya? Pasti ada. Cuma selama keuntungan lebih besar, kenapa tidak? Iya kan?

Tidak Perlu Lagi Menggarisbawahi atau Menebalkan Kata Kunci

Tidak Perlu Lagi Menggarisbawahi atau Menebalkan Kata Kunci

Pasti banyak yang tidak percaya kalau hal ini disampaikan. Tetapi, kenyataannya memang tidak perlu lagi menggarisbawahi atau menebalkan kata unci atau keyword supaya artikel menjadi SEO Friendly dan bisa tampil di halaman SERP (Search Engine Result Page).

Mungkin beberapa tahun yang lalu, trik ini memang berfungsi dan diperlukan, tetapi berdasarkan pengamatan dalam mengelola beberapa blog, rasanya sudah saatnya para blogger meninggalkan trik ini.

Mengapa?

Karena kenyataannya, banyak sekali tulisan atau artikel yang tidak memakai trik ini tetap bisa tampil dengan baik di peringkat atas SERP. Sudah terlalu banyak bukti bahwa trik itu sebenarnya sudah obsolete atau kuno dan tidak semestinya masih dipergunakan.

Berbagai tulisan di Lovely Bogor atau beberapa blog lainnya yang ditulis dengan cara biasapun tetap bisa hadir dan nongkrong di halaman satu SERP.

Bagaimanapun mesin pencari pun akan terus berkembang dan diperbaiki. Ia tidak akan terus menerus sama, bahkan kalau menurut cerita, algritma mesin pencari Google pun terus diperbaharui secara harian, meski tidak terlihat.

Trik menggarisbawahi atau menebalkan kata kunci untuk mengelabui mesin pencari pasti sudah diketahui Google, Yahoo, atau Bing. Tentunya pula mereka sudah menyempurnakan algoritma mereka agar tidak tergantung pada sinyal "palsu" yang kerap diberikan para pemakai seperti ini.

Para pengelola mesin pencari ingin artikel atau tulisan yang nyaman dibaca. Padahal penggunaan garis bawah atau huruf tebal yang tidak pada tempatnya, dan berulangkali sangat membuat tidak nyaman para pembaca.

Sesuatu yang sangat bertentangan tentunya.

Bolehlah Anda tertawa dalam hal ini dan terus memakai teknik seperti ini, tetapi percayalah bahwa tanpa itupun, sebuah artikel akan tetap bisa tampil dengan baik di halaman pencarian. Dan keuntungannya tanpa harus membuat tidak nyaman pembaca.