Semakin Dijalani Semakin Terasa Ringan

Semakin Dijalani Semakin Terasa Ringan

Banyak blogger yang mengatakan ngeblog itu berat. Anda pun mungkin merasakan seperti itu. Mungkin ya, tidak memastikan.

Jujur saja, saya pun "PERNAH" merasakan kegiatan blogging itu berat, tetapi itu "DULU". Makanya, kata PERNAH dan DULU diberi huruf besar karena hal itu tidak lagi saya rasakan. Sekarang buat saya ngeblog itu sangat ringan, dan terasa menyenangkan.

Kok bisa demikian? Adakah trik khusus supaya ngeblog terasa ringan?

Yah, sebenarnya tidak ada trik atau tips khusus yang perlu dilakukan. Tidak perlu juga berguru dan mengikuti kursus supaya blogging tidak menjadi beban. Justru kalau ikut kursus, menurut saya ngeblog malah tidak akan terasa ringan dan justru menjadi berat.

Yang diperlukan hanyalah sedikit memanage diri sendiri, seperti :

1. Awal selalu berat, tetapi paksakan untuk terus menulis

Dalam kegiatan apapun, bagian awal adalah bagian terberat. Pada saat itu, pengetahuan dan pengalaman kita masih pada level minim.

Jadi, bisa dipastikan bahwa akan ada proses belajar. Akan banyak sekali kesalahan. Akan ada banyak sekali hal-hal menyebalkan yang hadir.

Tetapi, perlahan tetapi pasti, seiring dengan pengetahuan yang bertambah, maka kita akan mampu mengeliminasi kesalahan-kesalahan yang kita lakukan, dan kita semakin pandai.

Ini adalah bagian dari siklus kehidupan manusia dalam bidang apapun. Jadi, hal itu harus diterima dan ditempuh.

Bila Anda seseorang yang baru terjun ke dunia blogging, terimalah fakta ini. Teruskan dan paksakan untuk menulis, seberapapun beratnya. Jangan pernah berhenti karena kalau berhenti, maka ngeblog akan selalu jadi berat. Pada saat yang bersamaan, belajarlah sedikit demi sedikit.

2. Memanage Keinginan dan menyesuaikan dengan kemampuan

Saya ingin seperti Linda Ikeji! Yah, kisah-kisah seperti ini memang seperti pisau bermata dua. Di satu sisi akan membangkitkan semangat untuk bisa menghasilkan yang sama, tetapi di sisi lain juga memberikan "beban" tersendiri.

Kisah-kisah seperti ini melahirkan yang namanya KEINGINAN, CITA-CITA, atau apalah namanya.

Fakta juga bahwa manusia akan memiliki hal itu. Tetapi, acapkali kita bermimpi terlalu indah dan berharap terlalu tinggi yang seringkali tidak sesuai dengan kemampuan diri sendiri.

Linda Ikeji memiliki banyak hal yang sudah ia punya sebelum terjun ke dunia blogger. Sedangkan, banyak dari kita tidak memiliki hal itu. Jadi, bermimpi menjadi seperti dirinya adalah sebuah kesalahan karena kita menempatkan cita-cita yang tidak sesuai dengan kemampuan diri.

Itulah mengapa, pada akhirnya saya berhenti membaca kisah-kisah seperti itu. Saya mencegah diri untuk bermimpi terlalu besar dan tidak sesuai dengan kemampuan. Saya coba meredam keinginan apapun dari blogging dan memfokuskan diri pada menikmati proses dibandingkan mengejar hasil.

3. Menyadari bahwa ngeblog adalah perjalanan panjang

Sebuah kenyataan. Kebanyakan blogger sukses adalah mereka yang sudah terjun di dunia ini lebih dari 5 tahun dan mereka konsisten.

Hanya, kebanyakan para internet marketer dan para blogger tutorial tentang blogging, entah demi alasan apa, lalai dalam menyebutkan fakta ini. Tidak ada blogger sukses yang bisa berhasil dalam 1-2 tahun. Mereka butuh waktu yang lumayan lama.

Pelajaran ini saya temukan setelah bermain ke berbagai blog dan menyadari bahwa ada "penyesatan" yang disengaja oleh kalangan tertentu, demi menaikkan omset blog mereka.

Jadi, saya ubah ulang strategi ngeblog saya. Tidak ada lagi target jangka pendek, kecuali dalam jumlah produksi artikel saja. Selebihnya adalah target jangka panjang, yang saking panjangnya bisa disebut tanpa target khusus.

Dengan melakukan ini, saya berhasil mengurangi KEINGINAN untuk sukses dan bisa lebih menikmati proses menulisnya. Terasa sekali lebih lega dan ringannya.

4. Masa depan tidak ada yang bisa memastikan

Yah, kenyataan juga kan? Siapa yang bisa tahu apa yang akan terjadi sejam, sehari atau seminggu ke depan?

Tidak ada.

Bisa jadi, kita sudah mati saat itu. Iya ndak?

Jadi, mengapa saya harus berpikir terlalu jauh dengan membuat target ini dan itu yang memberatkan pikiran?

5. Tidak mengikuti cara orang lain

Saya tidak lagi bingung tentang mana jalan yang terbaik yang harus dilakukan dalam ngeblog. Padahal, dulu, saat memulai, saya kerap bingung mana pendapat dan cara yang harus diikuti saat ngeblog.

Setelah beberapa lama, saya akhirnya menyadari bahwa banyak tulisan-tulisan yang menjanjikan kesuksesan itu lahir dari tangan orang yang juga belum mengecap sukses. Mereka juga sedang berusaha menggapai ke arah sana.

Jadi, kenapa saya harus belajar dari mereka? Mengapa saya tidak melakukan dengan cara saya sendiri? Sama-sama belum tentu berhasil, tetapi setidaknya dengan mengikuti dan melakukannya dengan cara sendiri, saya sudah bisa menikmati prosesnya.

Saya sudah mendapatkan hasil.

6. Saya semakin terbiasa menulis

Tidak terasa, kemampuan saya menulis pun berkembang seiring dengan waktu. Jika dulu rasanya susah menemukan ide, sekarang ide terlalu banyak untuk bisa ditulis sekaligus. Kalau dulu bingung bagaimana memulai sebuah tulisan, saat ini, darimanapun memulai sebuah tulisan bukanlah sebuah masalah.

Pemakaian kata-kata pun semakin bisa bervariasi. Tidak lagi monoton.

Soal gaya penulisan? Tidak masalah juga. Sekarang, kalau saya mau tutorial, maka saya pakai "topeng" guru dan menjelaskan secara rinci. Tetapi, saat saya harus menulis soal keindahan alam, maka gaya penulisan ala travel blogger pun bisa dilakukan tanpa masalah.

Dan, saya yakin, jika saya terus menulis seperti ini, maka di masa depan, ngeblog akan lebih terasa ringan lagi dibandingkan saat tulisan ini dibuat.

Jadi, saran saya, persis seperti kata Enda Nasution, si Bapak Blogger Indonesia, paksakan menulis. Jangan berhenti.

Berat pada awalnya, tetapi percayalah, ada waktunya dimana kegiatan itu terasa sangat ringan dan menyenangkan.







Foto News - Trik Memastikan Blog Tetap Update

Foto News - Trik Memastikan Blog Tetap Update

Bingung update blog karena kehabisan ide? Sebenarnya tidak perlu terjadi kalau kita tidak terlalu terbebani dengan berbagai keinginan untuk terlihat hebat dan profesional. Tiru saja cara Detik.com .

Ada satu rubrik yang berjudul FOTO NEWS di media online itu. Isinya sederhana saja, yaitu berupa foto dengan penjelasan satu atau dua baris tentang foto tersebut. Terkadang bahkan satu atau dua baris untuk beberapa foto yang dibuat terpisah.

Sebuah trik yang bagus sekali karena dengan sebuah foto saja sudah bisa memastikan blog akan selalu fresh dan update dengan hal yang baru.

Memang, ada kelemahannya dari segi mesin pencari dan sulit bersaing karena jumlah kata yang kurang. Tetapi, kenyataannya update blog itu tidak perlu selalu berpikir tentang mencari kemenangan di Search Engine. Terkadang, yang terpenting adalah memastikan ada "sesuatu yang baru" hadir untuk dilihat pembaca.

Apalagi kalau memakai hosting blogger/blogspot yang hampir tidak terbatas itu. Foto bisa menjadi sesuatu yang berharga untuk memastikan blog tetap update.

Iya kan?

Pena Lebih Tajam Dari Pedang : Para Blogger Pun Harus Selalu Ingat Yang Satu Ini

Pena Lebih Tajam Dari Pedang : Para Blogger Pun Harus Selalu Ingat Yang Satu Ini

Pena lebih tajam dari pedang

Begitulah sebuah pepatah/peribahasa lama yang ada di dalam khasanah bahasa Indonesia.

Sebuah pepatah yang kerap dijadikan bahan guyonan dan candaan karena terdengar seperti tidak masuk akal. Bagaimana bisa sebuah "pena" (pulpen/ballpoint) bisa menyamai ketajaman sebuah pedang?

Ujungnya bisa sama-sama runcing, tetapi, secara fisik tentunya, pedang akan selalu lebih tajam dalam berbagai hal dibandingkan pena. Pedang memang ditujukan untuk mengiris, memotong, menusuk sesuatu dan bahkan lebih spesifik lagi ditujukan untuk membunuh. Berbeda dengan pena, yang fungsi utamanya adalah untuk mengalirkan tinta ke ujung dan kemudian menorehkan simbol-simbol yang disebut huruf di atas kertas.

Jadi, pepatah ini tidak heran kerap dijadikan bahan guyonan, secara fisik.

Meskipun demikian, sejarah perjalanan manusia mencatat bahwa banyak orang melakukan tindakan-tindakan yang menunjukkan ketakutan terhadap "pena" lebih dibandingkan "pedang".

Sebagai contoh : Orde Baru yang membreidel berbagai jenis majalah saat berkuasa selama 32 tahun. Salah satu korbannya adalah majalah TEMPO yang sampai dua kali diberangus

Padahal, TEMPO bukanlah pemegang "PEDANG". Nama ini adalah nama sebuah majalah , TEMPO adalah pemegang "PENA".

Majalah ini, saat itu, terkenal dengan keberaniannya untuk "berbeda" dan "berseberangan" dengan pemerintah di masanya. Tempo kerap melakukan investigasi mendalam terhadap sebuah kasus umum dan kemudian memaparkannya kepada publik.

Dan, hal itu membuat "takut" penguasa di masa itu.

Bukan hanya Orde Baru saja, Orde Lama di bawah Soekarno pun melakukan usaha pemberangusan terhadap para pemegang "Pena". Banyak negara, terutama di negara berkembang juga berbuat hal serupa. Negara tertutup, seperti Cina/Tiongkok, apalagi. Kebebasan para pemegang "pena" sangat dibatasi disana.

Mengapa demikian? Mengapa para penguasa begitu takut pada para "Pena-ers" (pakai gaya anak zaman now)? Bukankah pena tidak seberbahaya pedang yang bisa langsung membunuh?

Jawabnya :

Pena, menulis, memang tidak akan secara langsung membuat seseorang luka atau kehilangan nyawa. Berbeda dengan pedang yang bisa seketika membuat seseorang atau beberapa orang mati. Tidak, kecuali seperti yang di film-film eksyen dimana pena dijadikan alat pembunuh, pena teramat sangat jarang membuat orang kehilangan nyawa secara langsung.

TETAPI....

"PENA" bisa menginspirasi banyak orang. Pena bisa menterjemahkan berbagai pemikiran yang ada di kepala manusia. Pena bisa menggerakkan hati ribuan dan bahkan jutaan orang untuk melakukan sesuatu. Pena bisa menanamkan pemikiran, ide di dalam banyak orang.

Apa yang dihasilkan sebuah "pena" bisa berubah wujud menjadi sebuah letusan dahsyat dalam bentuk "revolusi", penentangan, perlawanan. 

Pena bisa membuat ribuan bahkan jutaan orang kehilangan nyawanya. Bukan satu atau dua saja tetapi bisa beribu kali lipat daripada yang bisa dihilangkan oleh sebuah pedang. Sebuah buku karya Adolf Hitler, Mein Kampf, mengilhami banyak orang Jerman dan mengakibatkan holocaust pada bangsa Yahudi selama Perang Dunia II.

Itulah salah satu contoh konkrit dala sejarah dimana "pena lebih tajam dari pedang".

Berbahaya.

Itulah juga sebuah alasan yang sangat kuat, dan seharusnya menjadi patokan seorang blogger saat menulis artikel di dalam blognya.

Pena bisa dipergunakan untuk mewujudkan "kebaikan"atau "keburukan".

Seorang penulis/blogger bisa memanfaatkan "pena" yang dimilikinya untuk membuat tulisan yang bisa membantu orang lain memecahkan masalah. Sayangnya, pena yang sama juga bisa dipakai menghancurkan hidup seseorang atau banyak orang juga.

Sebuah tulisan yang mengumbar aib (yang belum tentu benar) dari seseorang, bisa berakibat buruk pada kehidupan orang tersebut. Ia bisa kehilangan pekerjaan dan hartanya dan bahkan kehilangan segalanya karena masyarakat tidak lagi percaya kepada dirinya. Boss-nya bisa menganggapnya melanggar peraturan perusahaan dan memecatnya.

Apalagi di zaman now, dimana kecepatan jempol untuk menekan tombol share lebih cepat dibandingkan otak mencerna dan berpikir, bahaya tajamnya pena pun semakin terlihat.

Sesuatu yang seharusnya menjadi pemikiran blogger saat menulis sesuatu. Ia juga harus mempertimbangkan apa efek dari tulisannya kepada orang lain. Betul, kebebasan berpendapat dijamin oleh Konstitusi, tetapi, tetap saja ada batasannya.

Tidak boleh kebebasan berpendapat itu sendiri dipakai untuk menyakiti atau melukai orang lain. Pena tidak selayaknya dipergunakan untuk menciptakan kehancuran dan kerusakan.

Pena diciptakan agar orang bisa merekam, mencatat, berbagi pengetahuan kepada yang lainnya. Bukan untuk membunuh dan menghancurkan.

Oleh karena itulah, kesadaran tentang hal seperti ini harus ada di dalam benak seorang blogger pada saat membuat tulisan. Ia harus bisa memastikan "ketajaman pena" tidak melukai orang lain.

Pendekatan Yang Berbeda Dalam Menjaring Pembaca ; Tidak Perlu Diperdebatkan

Menjala Pembaca Dengan Memperbanyak Jumlah Artikel

Sebuah hal klasik yang akan selalu hangat diperbincangkan dan diperdebatkan di dunia blogging dan internet marketer adalah "Mana yang lebih baik antara mengoptimasi tulisan dengan teknik SEO atau sekedar memperbanyak jumlah artikel?"

Tidak perlu menjadi bahan perdebatan sebenarnya, kalau semua blogger menyadari bahwa itu adalah dua pendekatan yang berbeda dalam menjaring pembacake blog. Yang manapun sama-sama mungkin mendatangkan apa yang diinginkan, pembaca yang berlimpah.

Ibarat pencari ikan, masing-masing sebenarnya punya teknik dan trik sendiri-sendiri agar hasil tangkapannya melimpah.

1) Ada pencari ikan yang lebih suka menggunakan pancing dan kemudian meramu umpannya agar sang ikan mau mencaplok. Biasanya mereka akan mempersiapkan segala sesuatunya sesuai dengan ikan yang ingin didapatkan, entah gabus, tuna, mujaer atau gurame. 

Yang ini mirip dengan para penggemar SEO  dan internet marketer yang akan berusaha menemukan berbagai trik supaya pembaca datang ke blog.

2) Ada pencari ikan yang malas memikirkan campuran apa untuk dibuat umpan, mereka pilih cara membeli jala dan kemudian menebarkannya di tempat yang sekiranya banyak ikannya. Yang seperti ini cenderung tdaik peduli jenis ikan yang didapatkan, yang penting ikan.

Pola kerja pencari ikan seperti ini mirip dengan mereka yang gemar menulis dan tidak peduli pada SEO, backlink dan berbagai trik lainnya. Buat blogger jenis ini, yang penting menulis dan menulis.

3) Pencari ikan yang lebih pandai, ia menyewa perahu kemudian membeli peralatan sonar untuk menemukan lokasi dimana ada kelompok ikan yang banyak. Kemudian, ia dengan jala yang tersedia akan pergi ke tempat yang diperkirakan banyak ikannya dan mulailah ia menebar jala disana.

Tidak beda dengan blogger yang paham SEO dan kemudian memutuskan memperbanyak artikel sekuatnya. Dengan begitu peluangnya menjadi lebih besar dalam mendatangkan pengunjung ke blognya.

4) Pencari ikan bermodal kuat, ia membeli kapal, menyiapkan peralatan sonar modern untuk menentukan lokasi yang banyak ikannya, mempekerjakan pelaut yang akan bekerja untuknya, dan berbagai peralatan lain untuk mendulang ikan dari laut.

Yang seperti ini tidak beda dengan blogger bermodal besar. Ia bisa mempekerjakan penulis untuk memperbanyak artikel di dalam blognya. Kemudian, ia menggunakan jasa ahli SEO untuk membantu blognya dari segi mesin pencari. Tidak lupa juga ia melakukan promosi kesana kesini agar nama dan brandingnya lebih dikenal.

Intinya, masing-masing punya cara dan pendekatan dengan tujuan meraih kesuksesan yang diinginkan. Yang mana yang lebih baik diantara keempatnya, tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Masing-masing cara punya kekuatan dan kelebihan masing-masing dan butuh penanganan yang berbeda.

Semuanya memiliki peluang yang sama untuk SUKSES dan juga punya rasio peluang yang SAMA untuk GAGAL.

Tidak ada yang pasti.

Jadi, kenapa harus diperdebatkan panjang lebar. Yang terpenting, buktikan saja cara yang dipilih memang benar-benar bisa menghasilkan apa yang diinginkan.

Iya nggak?

Memutuskan Untuk Meninggalkan Forum IAPD (Indonesia Adsense Publisher Discussion)

Memutuskan Untuk Meninggalka Forum IAPD (Indonesia Adsense Publisher Discussion)

RESMI sudah. Hari ini, saya memutuskan untuk tidak lagi bergabung dengan komunitas blogger yang manapun. Di Facebook atau di G+. Sudah tidak ada satupun yang saya ikuti.

Komunitas blogger dunia maya terakhir, IAPD, Indonesian Adsense Publisher Discussion, mulai hari ini sudah saya tinggalkan. Padahal, sudah cukup lama juga saya menjadi anggota forum besutan sang Juragan Cipir, Indri Lidiawati.

Alasannya? Tidak ada alasan spesial. Cuma rasa jenuh saja melihat sebuah forum yang isinya tidak berkembang sama sekali. Isinya hanya sekedar pertanyaan yang sebenarnya bisa dicari jawabannya sendiri lewat Google, Yahoo atau mesin pencari lainnya.

Bosan juga melihat bahwa tidak ada diskusi yang berkembang. Tidak kalah bosannya melihat semakin banyak member yang lebih menjadikan komunitas itu sebagai pasar bagi tulisannya, baik dengan menyebar link atau yang lainnya.

Berkunjung kesana seperti membuang waktu saja.

Jadi, yah saya putuskan, daripada lebih banyak waktu terbuang di masa depan, ya saya keluar saja. Lebih baik waktunya dipakai untuk menulis lebih banyak dan lebih banyak lagi.

Entahlah di masa datang. Walau tidak yakin bahwa saya mau kembali bergabung dalam komunitas blogger, tetapi siapa tahu ada yang benar-benar berbeda. Tetapi, untuk sementara ini, saya putuskan tidak bergabung dengan komunitas blogger apapun.

Setidaknya, saya bisa menghemat waktu.


Kembali Menulis Dan Melanjutkan Hidup

Kembali Menulis Dan Melanjutkan Hidup

Awal tahun yang LUAR BIASA! Benar-benar luar biasa.. BERAT.

Tidak menyangka bahwa tahun 2018 harus dimulai dengan begitu banyak peristiwa yang benar-benar meruntuhkan semangat untuk beraktifitas dengan normal. Tetapi, itulah kehidupan yang selalu penuh dengan banyak hal tak terduga.

Berpulangnya ibunda tercinta sempat membuat kehidupan seperti terhenti beberapa waktu. Ditambah dengan tangan yang harus dioperasi akibat infeksi yang memburuk karena cakaran kucing.

Semuanya membuat saya harus menghentikan sebuah kegiatan yang sangat saya sukai, menulis. Terhenti setidaknya selama kurang lebih dua minggu.

Perasaan kehilangan sempat membuat susah menggerakkan jari-jari di tuts notebook, bahkan untuk sekedar menjawab komentar dari kawan-kawan. Boro-boro terpikir untuk membuat artikel baru. Ditambah rasa sakit bekas operasi yang menyulitkan tangan bergerak.

Hasilnya, sama sekali tidak ada tulisan baru yang keluar.

Kehidupan seperti "berhenti".

Tetapi, hari ini, kehidupan itu mulai kembali bergerak.

Roda aktifitas mulai kembali bergerak.

Memang tidak sama dan tidak akan pernah sama lagi, tetapi roda kehidupan saya sebagai manusia kembali bergerak dan beranjak dari tempatnya berhenti. Masih terasa berat, tetapi roda itu mulai berputar kembali.

Tulisan ini adalah salah satu bentuk dari roda kehidupan yang mulai beroperasi kembali.

Tidak banyak, tetapi menandakan bahwa roda itu sudah kembali berfungsi untuk menelusuri jalur kehidupan yang sudah ditetapkan oleh YANG MAHA KUASA.





Apakah Template Bisa Menyebabkan Artikel Tidak Terindeks ? (Google Webmaster Tool)

Apakah Template Bisa Menyebabkan Artikel Tidak Terindex ?
Bukan memastikan. Bukan juga menuduh. Bukan berniat menjatuhkan. Hanya sekedar sharing saja karena setelah beberapa bulan, masalah yang bikin kepala pening ini menunjukkan titik terang.

Peta situs di atas berasal dari blog Umum Sekali, blog ngaco bin ancur-ancuran yang menjadi salah satu target operasi penambahan jumlah artikel. Peta situs itu menjengkelkan karena sejak 2-3 bulan terakhir, jumlah artikel yang terindeks di Google Webmaster Tool tidak bertambah-tambah, bahkan berkurang terus.

Tadinya ada di atas 200-an artikel yang terindeks, tetapi kemudian perlahan tapi pasti menurun sampai hanya 54 saja.

Mumet.

Masalahnya ada notifikasi "dicekal oleh bots" di GWT. Padahal, karena memakai blogspot, blogger, saya tidak pernah mengutak-atik yang namanya robots.txt. Tetapi, setelah lebih dari setahun tidak bermasalah, tiba-tiba saja artikel yang terindeks jumlahnya menukik parah.

Bahkan, walau update artikel diperbanyak, hasilnya tidak membaik dan terus memburuk.

Setelah coba baca sana baca sini, belajar sana belajar sini dari para master atau yang mengaku master, saya menyerah. Tidak ada yang berhasil menaikkan kembali jumlah artikel yang terindeks di GWT.

Pasrah.

EGP dah.

Cuma, setelah mengingat kembali history atau sejarah itu blog, sempat  saya mengganti templatenya dengan salah satu buatan Mbak Arlina (premium version). Waktunya, tidak berbeda jauh dari mulai terjadinya penurunan massal artikel tak terindeks.

Jadi, saya cobalah ganti template itu dengan template lainnya yang juga buatan Mbak Arlina. Yang sekarang memakai Simplify 2.

Hasilnya, ternyata setelah beberapa hari, angka artikel terindeks beranjak naik. Begitu juga dengan url yang terkirim, terlihat bergerak normal dari posisi terakhir. Tidak ada lagi penurunan, yang ada kenaikan.

Karena saya bukan ahli koding, juga tidak mau ruwet mikirin penyebabnya kenapa, juga tidak ingin belagak pintar (apalagi dalam hal template), saya cukup merasa gembira. Tetapi, "dugaan" saya adalah bahwa template sebelumnya yang saya pakai itu "ngeblock"  si robots dan hasilnya menyebabkan artikel-artikel tidak terindeks secara normal.

Hanya dugaan saja. Bukan kepastian. Saya tidak bisa memastikan.

Jadi, sekedar saran saja kalau ada yang mengalami masalah serupa, mungkin bisa dicoba untuk mengganti templatenya dulu, lalu biarkan beberapa hari untuk melihat apakah masalah berlanjut. Kalau ternyata dengan ganti template bisa selesai, kan lebih enak.

Seperti saya, yang sekarang sudah lebih lega sedikit karena blog ampun-ampunan itu sudah normal kembali hidupnya.

Ngeblog Tidak Butuh Modal? Yang Bener Aje, Bro!

Ngeblog Tidak Butuh Modal? Yang Bener Aje, Bro!

Rasanya pingin banget menempelengi para pembuat artikel-artikel yang memasang judul " Ingin Bisnis Tanpa Modal, Ngeblog Aja" atau "Panduan Mendapatkan Uang Online Tanpa Modal" tapi isinya adalah tentang ngebog dan cara memonetisasinya.

Cuma, ya nda mungkin tiba-tiba menempelengi mereka. Lagi pula, saya ndak tahu dimana orangnya, jadi yo wis ben. Saya sekedar meluapkan saja kekesalan dan kegeraman melihat kekonyolan yang seperti ini.

Tapi, kalau Anda mengatakan ngeblog tidak butuh modal? Sini, kebetulan, saya jadi punya sasaran untuk dijitak.

Kalau ada yang berkata seperti itu, berarti dia sebenarnya tidak mengerti tentang ngeblog sama sekali. Pemahamannya, tidak setinggi banjir di Jakarta saat musim kemarau. Lebih dari cetek.

Karena faktanya, ngeblog itu butuh modal. Bahkan, walau ngeblognya memakai platform gratisan seperti Blogger, Tumblr, dan sejenisnya, tetap butuh modal. Ndak percaya?

Coba perhatikan definisi dari modal itu sendiri : yaitu "investasi" yang ditanamkan seseorang dalam sebuah usaha untuk mendatangkan profit. Bentuknya bisa beragam, mulai dari uang, lahan, keahlian dan berbagai jenis benda lainnya yang bisa dipergunakan untuk menjalankan usaha.

Kita ambil saja modal dalam bentuk paling umum, UANG. Lalu, perhatikan berbagai kegiatan kita saat ngeblog (anggap pakai platform gratisan Blogger/Blogspot), lalu apakah benar-benar tanpa modal sama sekali?

1. Listrik


Untuk menyalakan komputer, perlu listrik. Tentunya tidak bisa dibayar dengan daun kan? Memang, kalaupun hanya 1 jam sehari atau seminggu ngeblognya, tetapi tetap saja ada uang yang harus dikeluarkan untuk membayar biaya pemakaian listriknya kan

2. Komputer atau Gadget

Harus beli kan? Itu kalau mau nyaman dan tenang saat ngeblog. Punya sendiri berbeda dengan memakai perangkat milik kantor tentunya karena berarti beban biaya dilimpahkan pada orang lain jika hal itu dilakukan.

Nah, memangnya beli komputer atau gadget tidak perlu uang?

3. Internet

Mau pakai mobile internet atau internet kabel, sama saja, tetap harus dibayar. Dan, untuk membayarnya perlu uang kan? Lalu, uangnya dinamakan apa dalam hal ini?

Tiga itu saja

Kalau mau ditambah, biaya kopi dan cemilan karena biasanya blogger pasti butuh "teman" yang manis saar otaknya berpikir keras untuk menghasilkan tulisan berkualitas dan bermanfaat (kata para internet marketer).

Nah, itu hanya "modal" dalam kaitannya dengan uang yang dikeluarkan. Lalu, bagaimana dengan pengetahuan, skill, ilmu, kemampuan, waktu, semua itu menurut ilmu ekonomi masa kini bisa dimasukkan sebagai bentuk "modal" juga karena justru itu kunci dalam keberhasilan sebuah usaha dan bisnis.

Jadi, apa benar ngeblog tidak butuh modal?

Kalau Anda masih berpendapat begitu, tolong kemplang kepala sendiri saja deh? Berarti ada yang salah dan tidak nyambung disana.

Menulis Sebagai Terapi

Menulis Sebagai Terapi

Terapi = pengobatan. Iya kan? Singkatnya memang begitu bahwa kata terapi itu selalu dikaitkan dengan usaha untuk menyembuhkan "sesuatu penyakit". Jadi, menulis sebagai terapi adalah kegiatan menulis untuk "menyembuhkan sebuah penyakit".

Bisakah?


Sebuah pertanyaan yang logis kalau diajukan, mengingat kegiatan merangkai kata ini sebenarnya tidak langsung berkaitan dengan kesehatan manusia. Jadi, wajar saja kalau ada yang bertanya apakah kegiatan menulis bisa menjadi salah satu bentuk pengobatan atau setidaknya membantu penyembuhan penyakit.

Ternyata, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa menulis bisa dijadikan terapi penyembuhan bagi beberapa jenis penyakit. Hal itu terlihat dari sebuah artikel yang diterbitkan oleh  Positive Psychology Program yang mencantumkan beberapa hasil penelitian tentang menulis sebagai terapi, seperti :

  1. Penelitian terhadap orang yang mengalami trauma atau situasi yang sangat stress, kesehatannya akan membaik 4 bulan kemudian, jika ia menulis selama 15 menit setiap hari selama 4 hari berturut-turut
  2. Penelitian pada 100 penderita asma menunjukkan hasil yang serupa. Pada penelitian ini para penderita asma diminta menuliskan hal-hal yang sangat menakutkannya
  3. Menulis juga ternyata bisa meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh
Lucu terdengarnya, bukan begitu?

Tetapi, kalau Anda pernah merasakan yang namanya patah hati, pasti juga pernah merasakan bagaimana buku diary bisa menjadi kawan akrab Anda. Disana Anda bisa berceloteh tentang betapa menyebalkannya si Dia yang sudah memutuskan Anda dan bagaimana Anda ingin menampar habis mukanya.

Begitu kan isi diary?

Lalu, apa yang Anda rasakan? Lega.

Inti utama menulis sebagai terapi adalah menyalurkan berbagai tekanan yang ada di dalam hati seseorang. Dengan meluapkan semua yang mengganjal hal itu akan menghadirkan perasaan lega dan membuat nyaman di hati.

Hal ini juga pada akhirnya berujung pada pencegahan tingkah laku yang merusak yang diakibatkan oleh masalah mental, seperti contohnya makan tidak berhenti karena stress diputus pacar. Dengan menyalurkannya lewat tulisan, baik di diary atau apapun, maka stress atau rasa marah itu akan berkurang, dan akhirnya tindakan merusak seperti makan tidak berhenti tidak terjadi.

Oleh karena itu, berbagai penyakit atau masalah kesehatan yang bisa dibantu dengan menulis sebagai terapi terutama yang berkaitan dengan masalah kejiwaan, seperti depresi, trauma, masalah makan/obesitas, dan lainnya.

Nah, kalau Anda sedang sedih, atau marah, atau kesal, dan kebetulan Anda blogger, lebih baik dijadikan tulisan saja. Selain bisa mengurangi tekanan di dalam hati, bukankah bisa juga menjadi sebuah artikel yang bisa dibaca orang lain. Siapa tahu bermanfaat?

Iya kan?

Ingin Punya Blog Full Konten Original? MUDAH! Buat Blog Diary

Ingin Punya Blog Full Konten Original? MUDAH! Buat Blog Diary

Sesuatu yang mudah, jangan dibuat susah. Sesuatu yang sederhana, jangan dibuat rumit.

Menulis konten original kok sepertinya menjadi sesuatu yang sangat rumit dan berat. Padahal, hal itu sangat mudah sekali dikerjakan. Asal kita tidak berpikir terlalu text-book thinking, alias hanya mengikuti aturan (yang dibuat oleh orang lain).

Bebaskan saja diri sendiri dari berbagai keinginan, maka semua akan terlihat mudah dan sederhana, seperti bagaimana kita seharusnya memandang hidup ini.

Memiliki sebuah blog berisi full konten original bisa dikata idaman para blogger dimanapun, termasuk saya. Dengan mempunyai blog yang isinya benar-benar asli hasil pemikiran sendiri, tentunya akan menjadikan kita berbeda dari blogger-blogger lainnya.

Nah, hanya kalau membaca berbagai "panduan" dari para mastah, sepertinya kok ribet dan rumit banget untuk membangun blog yang benar-benar isinya asli dan bukan sekedar hasil jiplakan, atau penulisan ulang. Ruwet bacanya.

Setelah dipikir-pikir, yang membuatnya jadi ruwet adalah karena keinginan kita untuk cepat kaya dan terkenal. Itu saja. Kalau semua itu disingkirkan, maka yang terlihat sebenarnya sangat sederhana.

Coba saja buat sebuah blog diary. Tuliskan curhatan, pengalaman, pemikiran, atau apapun yang berkaitan dengan diri sendiri.

Hasilnya, bisa dikata 100% original dan asli.

Tentu saja original. Di dunia ini tidak akan ada orang yang sama, semuanya pasti berbeda baik dalam kehidupan atau pemikiran. Hanya akan ada sedikit orang yang mengalami hal mirip atau serupa di dunia ini, semuanya pasti berbeda dalam banyak segi.

Otomatis sebuah blog diary memiliki kelebihan bahwa keorisinalannya terjamin. Blog diary hampir pasti penuh konten original yang berdasarkan pengalaman dan pemikiran pribadi seseorang.

Berbeda dengan blog tutorial yang kerap sekedar merupakan penulisan ulang dari apa yang pernah dibaca di tempat lain. Blog diary akan berbeda satu dengan yang lainnya karena orang di belakangnya juga berbeda.

Sesederhana itu saja.

O ya, blog diary bukan berarti tidak bisa terkenal lho. Di dunia ini sudah banyak sekali blog yang berisi curhatan, atau tulisan tentang pengalaman hidup seseorang justru mendapatkan perhatian lebih dan terkenal, contohnya Diana Rikasari di Indonesia atau Dooce di level dunia.

Keduanya adalah blog pribadi dan bersifat buku harian saja.

Tetapi, mereka sukses dalam kapasitasnya masing-masing. Banyak orang terinspirasi dari artikel-artikel sederhana yang kerap hanya berisi curcol atau limpahan perasaan saja.

Bohong besar kalau ada yang mengatakan bahwa kalau mau sukses dalam ngeblog berarti harus "menggurui" atau ikut gaya para internet marketer. Yang mengatakan mungkin sedang coba menarik pembaca saja supaya dagangan (tulisannya) laku saja, atau memang pengetahuannya terbatas. Itu saja.

Jangan pernah ragu untuk membuat blog diary, kalau memang Anda menginginkannya.